Archive | Cerpen RSS feed for this section

[Cerita Matematika] Persamaan

15 Jun

Istirahat kali ini Safira masih serius di tempat duduknya. Dia menemukan soal menarik yang membuat dia penasaran.

Safira terus berpikir. Dia mencoba mengira-ngira. Tapi tidak ketemu jawabannya.

“Jika batu bata itu beratnya 1 kg maka berat di sebelah kiri 1,5 kg dan sebelah kanan 1 kg. Berarti batu bata itu beratnya bukan 1 kg” gumamnya.

“Jika batu bata itu beratnya 2 kg maka berat di sebelah kiri 2 kg dan sebelah kanan 2 kg. Berarti batu bata itu beratnya 2 kg” gumamnya lagi.

“Horeeee, saya bisaa!!” Teriaknya kegirangan.

“Eh, Safira kenapa sih? Seneng banget?” Tanya Dini yang baru saja masuk kelas.

“Ini nih, ada soal yang menarik,” kata Safira.

“Ooo, trus kamu udah ketemu jawabannya?” Tanya Dini.

“Udah sih, tapi belum puas sebenernya,” jawab Safira ragu.

“Kok belum puas?” Tanya Dini lagi.

“Iya, kan saya menemukan jawabannya dari coba-coba aja,” kata Safira.

“Memangnya ada cara yang bukan coba-coba ya? Kan pertanyaannya susah. Wong berat sebelah kiri kan belum diketahui, kok ditanya berat batu batanya sih,” kata Dini.

Safira hening. Terus berpikir.

“Mmm, biar timbangan itu seimbang, berat beban di kiri harus sama dengan berat beban yang di kanan, iya kan?” kata Safira tiba-tiba.

“Iya bener,” jawab Dini.

“Gambar timbangan di atas maksudnya kan berat 1 kg bola kasti dan setengah batu bata sama dengan berat 1 batu bata,” jelas Safira berbinar-binar. Dini hanya menyimak.

“Kalau berat setengah batu bata kita misalkan x maka kita peroleh 1 + x  = 2x, iya ga?” kata Safira.

“Kok bisa?” Dini belum mengerti.

“Di sebelah kiri kan ada berat bola kasti 1 kg dan berat setengah batu bata yang belum diketahui. Nah, berat setengah batu bata yang belum diketahui itu kita tulis sebagai x. Jadi bisa kita tulis 1 + x iya kan?” Jelas Safira.

“Sedangkan di sebelah kanan ada 1 batu bata. Karena setengah batu bata kita sebut x, maka 1 batu bata kita tulis 2x ,” lanjut Safira.

“Nah, karena timbangan tersebut seimbang artinya ruas kiri sama dengan ruas kanan. Jadi boleh kita tulis 1 + x = 2x ,” lanjut Safira lagi.

“Kalau sudah begitu, gimana cara mencari berapa x nya?” Dini bergumam. Safira terdiam. Dia juga belum tahu cara mencari nilai  nya. Ayo, kalian semua, bantu mereka ya.:-)

Sekuntum Edelweiss, Setangkai Mimosa pudica

29 Mar

“Terima kasih ya,” akhirnya klausa ini yang aku pilih untuk memulai pembicaraan kita.

“Buat?” Kau pura-pura tidak tahu.

“Buat sekuntum Edelweiss kemarin,” kataku. Hendak bertanya, apa maksudmu? Tapi aku tahan. Harusnya aku sudah tahu.

“Suka?” tanyamu pendek. Pasti kau berharap aku mengangguk. Tapi, apakah aku belum pernah bercerita padamu kalau aku tidak begitu suka bunga? Lantas, kalo aku memilih tersenyum untuk menjawab pertanyaanmu itu, apakah akan menyinggungmu?

“Kok senyum aja sih?” tanyamu lagi.

“Jangan bertanya aku suka atau tidak, aku sangat senang menerimanya,” lega rasanya menemukan kalimat ini.

“Makasih ya,” ucapmu.

“Hey, kamu yang memberi kok bilang terima kasih?”

“Iya, terima kasih sudah menerimanya,” ucapmu lalu tertawa, begitu juga tawaku meyusul, kita tertawa bersama.

“Za?” panggilmu tiba-tiba. Seperti serius.

“Hmm,” jawabku pendek. Aku menoleh ke arahmu. Mencari-cari maksud dari wajahmu.

“Apa?” tanyaku akhirnya ketika tidak menemukan jawaban dari rautmu.

Engga, kamu melengos, menghindar dari tebakanku. “Hanya ingin memanggilmu,” lanjutmu lagi, mengerling.

Aku diam, pura-pura tidak peduli. Padahal, aku bahkan sangat tahu, iya aku juga merasakannya. Sudah sangat lama, tak ada pertemuan seperti ini. Duduk-duduk tanpa acara. Bicara ke sana ke mari tanpa tema. Tanpa menyesali waktu yang ternyata berlalu searah, irreversible. Seringkali aku memang sengaja, tak melihat jam karena tak mau waktu mengambil jeda. Tapi, kita memang tak pernah bisa memungkiri, bahwa perpisahan adalah syarat pasti dari pertemuan. Iya, iya aku tahu, sangat tahu. Ada kata yang tertahan, dari hatimu. Tentang rasa yang sama-sama kita sembunyikan.

“Mmm,” desismu perlahan.

“Apa?” hanya pura-pura bertanya. Aku tahu kau sedang kebingungan mencairkan suasana. Mencari-cari cerita apa yang bisa mewakili hatimu. Lalu aku tersenyum.

“Kamu ga suka bunga ya?” tanyamu hati-hati kemudian, Aku tersenyum.

“Seperti yang kamu lihat dari penampilanku yang tak pernah anggun. Aku hanya cemburu sama bunga-bunga yang anggun dan cantik. Itu makanya aku ga suka bunga. Aku iri,” jawabku beserta alasan lengkap.

Halah, bilang aja kamu ga telaten merawat bunga, pake ngeles cemburu-cemburu segala,” candamu sambil tertawa kecil.

“Tumben tebakanmu benar,” lalu tawaku ikut pecah.

“Jadi benar kamu ga suka bunga?” Ih, kenapa sih kau suka mendesakku dengan pertanyaan yang menurutku sudah cukup aku jawab.

“Dari pada bunga aku lebih suka pada rumput liar,” jawabku.

“Mereka bisa tumbuh di mana saja tanpa manja. Mencari kehidupannya sendiri dengan menanamkan akarnya kuat-kuat dalam tanah. Walaupun kemarau seperti membunuhnya, tapi nyatanya itu hanya hibernasi sesaat,” lanjutku panjang.

“Terus?” tanyamu.

“Iya gitu, saya lebih menyukai rumput dari pada bunga,” jawabku.

“Itu makanya kamu sedikit liar,” kelakarmu. Aku tersenyum kecut. Aku tahu kau sedang bercanda. Aku tak marah, karena aku tahu yang kau maksud liar bukanlah sinonim dari amoral yang mirip dengan asusila atau tuna susila. Juga, kau tak pernah meninggalkanku meski kau tahu aku tak sempurna. Jadi aku tak perlu marah walaupun menurutku kau bercanda kelewatan.

“Maaf-maaf, aku cuma becanda,” maafmu menangkap air mukaku yang berubah kecut tadi.

“iya gpp, lupakan. Mmm, kamu tahu ga rumput apa yang paling aku suka?” tanyaku kembali ke topik awal, hanya tak hendak memperpanjang pekara yang sensitif.

“Rumput itu macem-macem ya? dan bernama juga?” tanyamu.

“Ya iya lah, karena manusia berkepentingan terhadap nama-nama itu untuk membedakan jenis-jenis rumput, jadilah rumput itu bernama,” selintas terpikir tentang ujaran masyhur, apalah arti sebuah nama.

“Rumput apa yang paling kamu suka? Aku tidak pernah kenalan sama rumput-rumput, jadi ga tahu,” tanyamu. Jika aku penggemar Ebiet G Ade, maka aku akan menjawab “silahkan bertanya pada rumput yang bergoyang”.

“Mimosa pudica,” jawabku singkat.

“Apa itu? saya pernah dengar deh, apa sih? emang ada gitu nama rumput yang cantik?” tanyamu.

“Kalau kamu pernah lulus SMP pasti tahu, dulu di pelajaran biologi kita mempelajari tentang binomial nomenclature kan?,” tampak kau sedang berpikir.

“Apa sih? aku hanya ingat Oryza sativa,” serahmu.

“Si kejut,” jawabku.

What? Putri Malu? apanya yang kamu sukai?” tanggapmu.

Aku tak menjawab. Aku tahu, kau tahu bahwa aku tak sempurna. Ketika kau menginginkan aku seanggun Edelweiss, tetap tangguh, abadi dan mempesona di mana pun berada. Kenyataannya aku hanyalah sebatang Putri Malu. Iya, hanya rumput liar yang sesekali terjebak pada kemarau. Hibernasi yang seperti mati. Bahkan pada rangsang-rangsang yang halus, aku pun kalap. Menutup diri. Tapi sebagaimana kau tahu, Putri Malu yang liar itu juga ingin berbunga, begitu pun aku. Kau juga tahu, tak ada Putri Malu yang bisa berevolusi jadi Edelweiss. Apakah kau keberatan?

Tak terasa Ta, matahari telah maghrib. Langit menggelap. Jeda lagi. Berpisah lagi. Sampai jumpa, aku pasti merindukan hari ini lagi. Sayang, tak akan pernah ada lagi, jadi ijinkan aku menuliskannya.

Petir

11 Dec

petir

Musim hujan kali ini masih menawanku. Berdiri berjam-jam memandangi rintik juga ricik dari balik jendela. Dingin yang sama masih menyergapku, seperti pada hujan-hujan yang telah lalu. Aku sama sekali bukan orang yang melankolis, tapi tidak untuk melihat hujan. Suasana yang selalu berhasil membuat aku terpaku berjam-jam.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Masih ingat dengan kalimat Ayah yang itu. Kalimat yang selalu beliau ucapkan berulang-ulang. Ketika aku jatuh belajar sepeda dan menahan nyeri, Ayah mengatakan itu. Menahan tangis dari mataku.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Kalimat itu lagi. Ketika aku pertama kali berkenalan dengan rasa kehilangan. Saat Robby, kelinci kesayangan yang di berikan Ayah sebagai hadiah ulang tahun, tiba-tiba terpejam dan tidak bisa bergerak lagi. Kalimat itu lagi, dan isakku tertahan. Kemudian menggali tanah untuk menguburnya. Kehilangan itu menyakitkan.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” rasa-rasanya kalimat itu selalu terngiang dan memaksaku untuk melupakan hujan. Beranjak dari sebuah kenangan yang mencekam. Terima kasih, Ayah. Iya, benar katamu, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Akan banyak sekali yang harus aku tanggung. Bukan beban, barangkali sebuah kelengkapan jalan hidup.

“Kopi, bro!” Andi menepuk pundakku, dan menyodorkan kopi. Asap mengepul dari cangkir yang dibawanya. Hangat.

“Makasih,” Jawabku, meliriknya sekilas.

Kemudian dia berlalu setelah meletakkan cangkir itu di meja belajarku. Setidaknya dia tahu, aku selalu seperti ini menyambut hujan-hujan pertama sepanjang tahun. Meski baru dua tahun dia menjadi temanku, di kosan sempit ini.

“Duarrr!!!” Jendela bergetar. Begitu juga hatiku, seperti terampas begitu saja. Pembuangan muatan negatif dari awan ke bumi, karena perbedaan muatan itulah yang mengawali sejarah panjang dalam masa kanak-kanakku.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Masih kalimat Ayah yang terkenang. Ketika Bunda, sesosok lembut yang mengenalkanku pada cinta dan kasih sayang, harus pergi. Seperti Robby, yang terpejam dan tak bergerak lagi. Meskipun pertemuan ini sangat singkat, tapi Ketulusan itu masih terasa sampai waktu tak bisa menghitungnya. Bunda, tahukah kau, aku mengantarmu sampai ke batas pintu dunia. Aku tidak menangis, Bunda. Seperti kata Ayah, “Bundamu akan bangga memiliki anak tangguh sepertimu, Nak!”

Saat itu aku masih memakai seragam putih merah. Seragam yang baru beberapa bulan di jahit Bunda, sebagai hadiah karena aku naik ke kelas IV. Kehilangan ini lebih mencekam.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Kalimat Ayah, yang menghiburku setelah hari-hari itu. Tidak ada yang menuntunku berdo’a dan bercerita tentang pangeran yang gagah perkasa ketika aku hendak tidur. Hari-hari sepi yang selalu memberiku monolog juga dialog, antara aku dan hatiku.

“Berita banjir lagi, huh!!” Andi lagi, mencoba membuyarkan lamunanku. Menghempaskan tubuhnya di kasur dan melempar koran sore yang belum selesai di bacanya.

“Sudah tahu membuang sampah sembarangan bisa menyumbat selokan, masih saja tidak mau. Ah, dasar orang Indonesia!” Andi mengumpat tak karuan.

“Tirulah Jepang, negara sempit yang tak punya lahan itu. Sangat hati-hati dan pintar menjaga lingkungan,” Cerocosnya.

“Bagaimana mau seperti Jepang, kalau pemudanya cengeng dan pelamun gila,” katanya lagi.

“Hei, apa kamu bilang? Aku cengeng, ha?” Aku menarik kerah bajunya.

“Jangan sekali-kali kamu bilang aku cengeng,” Hendak kulayangkan tanganku yang terkepal. Kalap.

“Bro! tenang bro!” Andi mencoba menghindar. Mendudukkanku.

“Aku tak bermaksud mengataimu cengeng. Tapi untuk apa kau terus-terus memandangi jendela, hidupmu tidak akan berubah,” Ku lepaskan tanganku dari kerahnya. Andi beranjak. Jengah.

“Sori, bro! Aku kalap,” kataku.

“Hmm… makanya jangan banyak menghabiskan waktu untuk melamun, ups! sori, maksudku …”

“Iya, aku tahu maksudmu,” Selaku.

“Tapi kau tidak pernah tahu aku,” mataku kembali menerawang.

“Mau bercerita? Tidak apa-apa, tidak usah malu. Curhat bukan perbuatan yang cengeng,” Kata Andi, Tiba-tiba berubah sebijak Ayah.

Lalu, aku bercerita seperti hujan yang mengalir deras itu.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” aku mengawali ceritaku dengan kalimat Ayah itu. Aku bercerita satu-satu tentang masa kanak-kanak. Nyeri demi nyeri yang tertahan. Dan air mata yang terus bungkam. Untuk Ayah, aku tidak boleh cengeng.

Sampai saat derai-derai hujan yang seperti tak berunjung. Langit sepertinya akan mendung untuk selamanya. Saat petir memecah langit yang kelam. Iya, peregerakan awan yang teratur dan mengumpulkan elektron-elektron pada satu sisi dan proton di sisi yang lainnya, memuntahkan listrik yang mengirimkan padaku sebuah kehilangan yang sangat mendalam. Tidak ada lagi Ayah yang mengatakan padaku, “Anak laki-laki tidak boleh cengeng.” Kali itu semuanya benar-benar monolog yang getir.

“Aku tahu, Ayah sebenarnya tahu, bahwa aku adalah anak laki-laki yang cengeng. Untuk itu Ayah tak henti-hentinya mengulangi kalimat itu padaku.”

______________________________________

Asal gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/36/Thunder.jpg

Dalam sepi bersama hujan. Memenuhi janji pada seorang teman. Maaf, tentang kisahmu, saya hanya bisa menulis seperti ini. Sungguh, sebenarnya kau sama sekali tidak cengeng. Tapi karena saya yang melankolis, jadilah kisah yang seperti ini. Saya yakin, rintik dan ricik hujan ini, menyampaikan salamku untukmu.

Dakon

11 Nov

“Za, malam purnama lagi” Katamu, dan aku sudah mengira kau akan mengatakan itu sebagai kalimat pertamamu. Karena ini bukan pertama kalinya kau mengawali pembicaraan dengan menyebut purnama. Bukan ketiga kali, kelima atau ketujuh, cukup menyebutnya kesekian kali saja. Entahlah, aku tidak tahu kenapa kau begitu menyukai purnama itu. Aku saja yang kau ajak bicara kadang-kadang tidak sepenuhnya paham. Tapi tak mengapa demi menjadi temanmu, aku akan dengan senang hati mendengarkan kamu bercerita. Tapi kali ini, kau mengajakku bermain dakon, iya permainan masa kecil itu.

“Aku selalu teringat dengan seseorang ketika purnama melingkar sempurna di langit.” Lanjutmu dengan senyum.

“Siapa?” Tanyaku. Berharap kau akan menyebut namaku. Teman yang telah menghabiskan belasan purnama untuk mendengarkan cerita-ceritamu yang penuh metafora dan konotasi. Sehingga kepalaku harus berputar dengan arah lain ketika berbicara denganmu.

“Seorang sahabat kecil” Jawabmu. Ah, kau belum pernah bercerita tentang ini.

“Hmm… Pasti dia sangat hebat ya!” tanggapku.

“Bukan hanya hebat, tapi benar-benar luar biasa,” Aku biarkan kau bernostalgia. Menikmati masa lalu yang selama ini kau simpan rapi. Investasi kenangan selalu memberikan romantisme yang menyenangkan.

“Dia selalu bangga untuk bercerita bahwa dia dilahirkan pada saat purnama muncul sesaat setelah gerhana,” Katamu.

“Dan katanya karena dia dilahirkan bersama cahaya setelah gelap, itu tandanya dia dilahirkan untuk menerangi dunia.” lanjutmu.

“Kau tahu, Ibunya meninggal di usianya yang masih dalam hitungan menit.” Ku lihat matamu sedih, seperti menyaksikan kembali cerita itu.

“Tetapi sungguh dia anak yang periang, meskipun dia besar tanpa seorang Ibu.”

“Apakah kau lahir sebelum dia, Ran? Tanyaku.

“Mmm… Aku lahir tiga tahun setelah dia. Aku tahu itu dari cerita Bunda dan dia sendiri.” Lalu kau bercerita tentang masa kecilmu dengan Gerhana.

“Namanya Gerhana, dia seperti kakakku sendiri. Dia mengajakku bermain dan menemaniku belajar. Dia anak yang sangat cerdas,” Katamu sambil menerawang, gaya khasmu ketika mengenang sesuatu.

“Ah, aku selalu sebel karena tidak pernah menang main dakon dengan dia,” Ku lihat kau tersenyum-senyum.

“Katanya agar bisa menang dalam main dakon, kita harus pandai berhitung. Sehingga kita tidak asal mengambil langkah,” Lanjutmu

“Dia memang orang yang sangat teliti dan hati-hati.”

“Terus sekarang dia di mana?” Tanyaku, tiba-tiba aku merasa tidak enak menyela ceritamu dengan pertanyaan itu.

Kau tak menjawab. Malah menerawang. Menembus awan gelap yang membungkus purnama hingga tinggal pendaran sinarnya yang remang-remang. Senyap tiba-tiba. Dan wajahmu, entahlah aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan di baliknya.

“Kami berpisah ketika aku naik kelas lima SD. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Seperti dia yang sangat bersedih. Aku juga ikut bersedih. Terlebih ketika harus berpisah dengan dia karena dia harus ikut pamannya di luar kota.” Seperti langit malam ini. Sendu. Wajahmu benar-benar muram saat ini.

“Saat perpisahan, dia memberiku dakon yang dia dapatkan dari panjat pinang waktu lomba 17-an. Katanya, aku harus rajin belajar. Aku harus pintar. Percayalah, Seperti anak-anak dakon yang kita mainkan, suatu saat kita akan bertemu lagi.” Katamu sedikit menirukan kalimat-kalimat sahabat kecilmu itu.

Kau diam lagi. Mengambil napas agak panjang. Menyeka airmata yang tiba-tiba membanjiri mukamu.

“Sekarang dia ada di sini, Za. Di kota ini juga.” Aku terperanjat, tak percaya. Kenapa sekalipun kau belum pernah bercerita tentang dia.

“Aku baru bertemu dengan dia satu minggu yang lalu,” Katamu datar.

“Di mana?”

“Di perpustakaan fakultas,” Jawabmu masih datar.

“Kok, Dia mahasiswa sini juga?” Aku tambah terkejut.

“Bukan, Dia alumni. sekarang dia dosen di sini.”

“Wahh…. Hebat sekali ya Ran, Gerhanamu itu.” Aku histeris sendiri.

“Kau tahu Za, apa yang dia katakan?” Tanyamu. Aku menggeleng. Tentu saja tidak tahu.

“Dik, aku ingin di pertemuan ini satu anak dakon yang aku pegang tepat jatuh segaris dengan hatimu. Sehingga hatimu menjadi milikku.” Kau menirukan kata-katanya.

“Dia bilang dia ingin melewati semua sisa purnama bersamaku, Za!”

“Waaahh…. Lalu-lalu??” Aku tak sabar, mendesakmu sebelum kau kembali diam. Tapi wajahmu tidak berubah juga. Masih sendu.

“Dia tidak tahu, Bunda sering bercerita padaku, kalau Bunda sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri.” Katamu

“Maksudmu?”

“Kau tahu Za, di hari saat dia dilahirkan Bunda juga melahirkan almarhum kakakku. Karena kami adalah tetangga terdekatnya, maka ayahnya sering menitipkan dia pada Bunda. Bunda selalu tidak tega melihat dia menangis, dan Bunda pernah memberikan ASI-nya untuk Gerhana.”

“Jadi kalian?”

“Ini menyakitkan, Za” Gerimis mulai turun, dan aku mengajakmu masuk.

Membagi

31 Oct

“Bengong, Za!” Sapaku sore ini ketika menemukan dirimu berdiri di koridor student center. Tak kau hiraukan. Pandanganmu tak bergeser, masih tegak lurus menatap garis-garis yang luruh dari langit.

“Hmm… apakah kau ingin bercerita padaku tentang hujan?” Tanyaku lagi. Meski pandanganmu belum beralih juga, aku yakin kau mendengar pertanyaanku.

“Bukan tentang hujan, Ra” Kalimatmu nyaris kalah berlomba dengan derai hujan.

“Lalu? ” Kuikuti matamu, menabrak sebatang pohon.

“Masih tentang daun, yang mengabdikan sepanjang hidupnya demi cinta pada sang pohon” Jawabmu.

Bibirku membulat.

“Trus?” Tanyaku kemudian.

“Kau lihat daun-daun pohon itu, Ra?” Tanganmu menunjuk pada pohon di depan sana. Ku ikuti instruksimu. Ku lekatkan pandanganku pada daun-daun yang basah kuyup dan mengibas-ngibaskan dirinya pada angin. Menggigil, dingin.

“Kenapa? Aku tak mengeti”

“Lihatlah lebih teliti”

“Mmm… Daun itu tidak sehat, dia dimakan ulat,” tebakku akhirnya. Setelah memandangimu, mencari maksud yang kau sembunyikan dari wajahmu.

“Iya, kau benar daun-daun itu dimakan ulat.” Kau mengangguk.

“Menurutmu Ra, Jika daun itu adalah aku, apa yang harus aku lakukan dalam keadaan demikian?” Kalimatmu mirip pertanyaan. Ah, bukan. Kau seperti memberi soal ujian buatku.

“Maksudmu?” Jawabku balas bertanya.

“Aku adalah daun. Hidupku adalah subset dari pohon. Tentu saja aku ada untuk kelangsungan hidup pohon, aku tahu itu. Tetapi ulat-ulat itu menggerogoti diriku. Aku tidak bisa memberi yang terbaik untuk pohon,” kalimatmu tercekat.

“Kenapa kamu tidak berdo’a saja semoga ulat-ulat itu lekas mati!” Jawaban asal.

“Ulat-ulat itu memberiku mimpi lain, Ra. Tentang suatu hari ketika dia menjelma kupu-kupu bersayap pelangi” Ada ketakberdayaan, ada kebimbangan, ada harapan.

Kau menerawang, seperti berpikir. Sedangkan aku menikmati keadaan ini. Hujan dan dingin. Bukan itu, tapi kebersamaan denganmu selalu memberiku suasana lain. Meskipun aku tidak pernah bisa memahami apa yang kau bicarakan. Tentang bintang-bintang, purnama dan malam, juga tentang daun, ulat atau kepompong, tentang apa saja. Semuanya abstrak. Aku diam. Menyaksikan sepucuk daun jatuh bersama hujan yang menahan kita untuk tetap berada disini. Diam-diam aku bersyukur atas hujan ini dan berdo’a semoga tak kunjung reda. Dan kita bisa lebih lama di sini.

“Apakah aku hanya bisa menerima dan menamainya takdir?” Tanyamu lagi, Aku masih diam.

“Aku bertanya, Ra kenapa kau diam saja? ya sudah lah, mungkin ini tidak penting bagimu.” Maaf Za, bukan tidak penting, tapi aku tidak tahu. Dan hujan menyisakan rintik-rintik, kau melambai sesaat setelah melepas jabat tanganmu.

Daun

21 Oct

Sore ini kita duduk bersama lagi disini. Sebuah tempat yang orang-orang menyebutnya taman. Kau bersandar di pohon, bercerita dan menerawang. Masih tentang mimpi-mimpi. Ah, selalu seperti ini. Aku menyimak ceritamu dan diam, menatap matamu seperti bertanya, lalu?

“Kamu sering lihat kan daun di pohon, ketika dia masih muda-hijau, semua orang yang melihatnya selalu membawa pulang kesan sejuk,” katamu sambil menunjuk daun-daun yang masih hijau.

“Tapi daun itu memiliki usia. Dia akan menguning, tua, tidak sedap di pandang, dan harus segera tanggal. Lalu jatuh dan luruh.” Aku mengiyakan, tapi tidak tahu ke arah mana kau bercerita.

“Tapi tahu tidak, meskipun daun sudah luruh, dia tetap mencintai pohonnya. Dia rela membusuk, meleburkan dirinya ke dalam tanah menjadi humus, menguatkan akar-akar dan menyuburkan si pohon.”

“Aku ingin menjadi daun” Lanjutmu.

“O ya, Kau ingin jadi daun bagi pohon apa?” Tanyaku, sambil memungut sehelai daun di tanah yang sudah lusuh.

“Mmm… ” Seperti berfikir, kau merebut sehelai daun yang aku pegang, meremasnya kemudian melepaskan satu-satu serpihannya.

“Pohon apa saja, dan setiap hari aku akan menjadi tempat fotosintesa menyediakan makanan untuknya. Melindunginya, menjadi bagian yang pertama luruh ketika angin kencang menerpanya.” Jawabmu.

“Benarkah? itu tidak berlebihan?” Ku ikuti matamu yang nyangkut di dedaunan pohon.

“Dengan begitu hidupku akan berarti.” Nafasmu seperti mendesahkan kepuasan tentang pengabdian yang sempurna.

“Tidak akan ada yang mengenangmu dan tidak ada yang melihat jasa-jasamu ketika kau sudah terkubur jadi tanah.” Kataku,

“Kenangan? pentingkah?” Tanyamu.

“Selama sang pohon masih berdiri kokoh dan daun-daun terus bertunas dari batangnya, aku akan bahagia.” Kau melanjutkan.

Lalu, angin bulan oktober yang kencang menggoyang-goyangkan pohon yang kau sandari. Mengoyak daun-daunnya, dan kau,

“Kau tahu daun-daun yang berjatuhan itu sedang bersajak.” Katamu

“Apa sajaknya?”

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi. *

__________________

*Sajak Sapardi Djoko Damono, Hatiku Selembar Daun

Cerpen sangat pendek yang tertulis sambil mencuri waktu, untuk seorang teman yang bertanya “kenapa tidak menulis cerpen lagi?”

Sisa Purnama

20 Sep

Tidak ada kalimat lain. Pertanyaan itu adalah paripurna dari kalimatmu. Aku tetap diam.

Sampai malam ini. Ketika perlahan rembulan itu berjalan menyusuri keberaturan. Tak ada lagi purnama. Bukankah di sana juga? apakah kau melihatnya? atau masih tetap purnama? Jika masih, aku yakin besok lingkaran itu hanya bersisa jadi benjolan.

“Kau mau melukis O, menyempurnakan setengah lingkaranmu dengan meminta setengah lingkaran dariku. Benarkah seperti itu?” Aku bertanya di sini, di rembulan yang tak lagi melingkar. Selalu seperti itu purnama. Tak pernah setia. Begitu juga kah kau?

Apakah kau hendak menjawab? Aku mencari jawaban dalam tumpukan kalimatmu yang menjadi kenangan.

“Kau selalu mengingat semuanya” katamu kemarin, ketika aku meceritakan kembali apa yang telah terjadi.

Bagaimana aku tidak mengingat semuanya, bahkan saat kau membuat jeda dengan tertawa atau nyengir aku pun menyimpannya. Apalagi kalimat, diammu saja aku ingat.

Tapi,

Memberikan C ku, untuk melengkapi lingkaranmu? Apakah kamu yakin bahwa C mu memiliki jari-jari yang sama dengan jari-jari C ku?

Bagaimana nanti jika jari-jarimu lebih panjang dan punyaku lebih pendek. Sehingga C ku lebih kecil dari pada C mu? akankah jadi lingkaran yang sempurna? Tentu saja tidak. Lalu,

“Bukankah masih akan tetap berpotongan? Dan kita akan tetap bisa bersatu,” katamu.

“Hey, kenapa kamu mengalihkan pembicaraan, kau tidak sedang membicarakan apakah kita akan bertemu atau tidak, tapi tentang O yang ingin kau lukiskan dengan separuh C ku?” begitulah dirimu, pandai mencari celah untuk beralih perhatian.

“Kamu suka lihat purnama kan?” tanyamu.

Ku cari maksudmu dengan kalimat itu di balik matamu yang menatapku tajam.

“Apakah purnama serta merta menjadi lingkaran yang kau inginkan?” pandanganmu masih lekat.

“Purnama berjalan, berevolusi seperti metamorfosa menuju kesempurnaan, bukankah begitu dengan kita?” sangat jarang kau menggunakan kata kita, dan kau memakainya saat ini.

“Kau yakin C ku dan C mu akan saling menyesuaikan, kemudian bertemu dalam titik pusat yang sama?” kataku akhirnya.

“Kenapa tidak? Bukankah purnama berakhir, bermula, sampai berakhir kembali, adalah proses yang berulang, yang tak mengenal lelah dan putus asa: tapi yakin dan optimis.” Tidak ada keraguan di matamu.

Aku tak tahu lagi harus mengucapkan apa. Lebih baik sampai disini saja. Sebelum rembulan itu menjadi setengah lingkaran. Yang pasti, adalah setengah lingkaran yang berbeda dengan setengah lingkaran di langitmu sana.

“Mungkin ini hanya dimensi ruang dan waktu kita yang berbeda, Za,” aku seperti mendengar kata-katamu dari balik langit sana.

“Jika kita ada dalam langit dan malam yang sama, bukankah kita juga akan memiliki rembulan yang sama?.” lanjutmu. meyakinkanku.

“Kau yakin?” tanyaku, dan aku menutup jendela. Membenamkan malam, lupakan purnama yang tak pernah setia. Berharap masih ada matahari esok pagi yang menerangi jalanku.

Purnama Melingkar

17 Sep

Di sini rembulan sedang purnama, Ada yang melingkar sempurna di langit. Berkilau keemasan membelah gelap jadi berwarna. Apakah langit di sana juga? Di belahan bumi yang lain, di mana malamku adalah siang untukmu. Berkejaran dalam waktu dan tak pernah bertemu.

“Aku sedang mengumpulkan potongan-potongan mozaik untuk melengkapi hidupku”. Kalimatmu beberapa waktu yang lalu, menirukan kata Pak Balia dalam Tetralogi Andrea Hirata. Kelilingilah dunia, temukan potongan-potongan mozaik kehidupanmu. Seperti teman yang sangat dekat, kau meneleponku sesaat sebelum keberangkatanmu menuju belahan bumi yang lain itu. Sementara aku masih tertegun ketika mengangkat teleponmu, kau sudah mengatakan banyak kalimat yang tidak bisa ku ingat dengan baik sekarang. Yang jelas, seperti pemberitahuan bahwa kamu akan meninggalkanku. Ah, tidak. Tidak ada yang ditinggalkan seharusnya. Aku sama sekali tidak merasakan sebuah perpisahan. Hanya seperti kabar, kau baik-baik saja.

Malam sempurna,

“Kenapa kau suka menyebut rembulan itu lingkaran? bukankah banyak yang menyebutnya bola?” tanyamu suatu ketika.

“karena itu yang tampak di mata, tapi sulit diraba; seperti lingkaran, hanya ada dalam pikiran” jawabku.

“Maksudnya? aku tidak paham, kau selalu seperti itu.”

“seperti itu bagaimana? ya udah ga jadi aja.”

“Jangan gitu dong, maksudnya apa? aku benar-benar tidak tahu.”

Ah, seperti biasa-biasanya setelah itu kau mencari-cari topik lain. Atau diam saja, atau menyudahi pertemuan ini.

Disini rembulan sedang purnama, apa yang sedang kau lakukan disana? Apakah sedang menyempurnakan lingkaran perjalananmu? Menuju masa depan yang seperti warna langit malam ini. Meski ada gelap tapi tidak kelam. Ada kilau yang mewarnai indah dalam keluasan.

“Apa cita-citamu?” Tanyamu suatu ketika,

Kaget sebenarnya. Untuk apa kau tahu cita-citaku? berusaha menjawab, tetapi hanya sesimpul senyum yang keluar dari bibirku.

“Kenapa tersenyum? aku bertanya cita-citamu, ada yang lucu?” Tanyamu lagi

“Engga?” Masih tersenyum.

“Lalu? kenapa tidak mau jawab?”

“Mm… aku ingin seperti lingkaran” jawabku akhirnya.

“Maksudnya? lingkaran kan hanya sekumpulan dari titik-titik? kamu suka? apa yang istimewa?” tanyamu.

“Iya, benar. lingkaran hanya sekumpulan titik-titik dalam bidang datar. Tetapi dia mempunyai satu titik yang jarak terhadap semua titik dibidang itu adalah sama.”

“Maksudnya? apa istimewanya?”

“Aku ingin jadi satu titik itu. Dia begitu teguh berada dalam pendirian demi menjaga sekumpulannya. Dia bisa dipercaya. Dia adil. coba saja dia lalai dan capek sedikit kemudian bergeser, memihak ke salah satu titik yang lain, lingkaran itu jadi tidak berbentuk lagi. Tidak indah seperti purnama.”

“Ooo,” komentar paling singkat yang sering kau berikan. Sebenarnya aku paling tidak suka mendengarnya.

“Kok cuma O?” protesku,

“Terus inginnya bagaimana?” tanggapmu.

Aku cemberut. Dan matamu mengerling seperti bertanya, “Ada yang salah dengan kata-kataku?”

Tentu saja tidak ada. Aku hanya ingin komentar yang lebih panjang darimu. Bukankah tadi kau yang memulai bertanya? kenapa kau mengakhirinya dengan O saja?

Kemudian diam. Ah, selalu seperti itu. Tapi kali ini kau melanjutkan lagi,

“Kau tidak suka O ya?” tanyamu.

Aku diam.

“Bukankah kau selalu bilang kau suka lingkaran?” lanjutmu.

Aku masih diam. Dan kau terlihat masih ingin mengatakan sesuatu.

“Aku punya satu huruf C, dan itu membutuhkan satu C yang lain biar menjadi O yang sempurna seperti lingkaran” katamu.

“Maukah kau memberikan satu C mu untukku?” Ku lihat matamu. memastikan apakah kalimatmu purna disini?

Ngo Lengo (Part 2)

1 Jun

“Hanya ini yang bisa saya lakukan, berteriak ‘Ngo lengo’ dan orang-orang berdatangan pada saya menukarkan uangnya dengan minyak, lalu saya mendapatkan uang untuk keluarga saya.” Kata si kakek sambil menuangkan minyak ke jerigen saya.

“Hahaha … hidup ini menyenangkan. Hidup ini begitu mudah.” Lalu kakek itu tertawa keras-keras. Ganjil. Tak habis pikir. Saya tak menyahut. Di tengah keadaan seperti ini, biasanya setiap orang dengan profesi apa saja, selalu berkeluh kesah. Menghujat pemerintah. Tapi kakek ini tertawa-tawa, dan bilang hidup ini begitu mudah. Maksudnya?

Bunda masih bergumul dengan asap tungku ketika saya ke dapur hendak menuang minyak ke dalam kompor. Bunda memandangiku, aneh.

“Kamu tidak melihat ada yang ganjil Ran?” Tanya bunda.

“Apa Bunda? Si Kakek hebat ya, bisa tetap tertawa-tawa dan menjual minyak dalam keadaan seperti ini. Dari mana coba dia dapat minyak untuk dijual?” kataku.

“Tentu saja Ran, yang di bawa dalam gerobak dorongnya bukan minyak tanah, Itu air sumur. Kakek itu gila sejak kelangkaan minyak tanah beberapa bulan yang lalu,” Jawab Bunda datar. Aku terbelalak.

“Kok bisa? kenapa Bunda membiarkan saya membelinya?”

“Karena kamu terlanjur menghentikannya. Ya sudah, biar kamu tahu hidup zaman sekarang begitu susah. Biar kamu bersyukur, tidak ikut gila.”

Diam. Huff … Apakah hanya orang gila yang bisa merasakan bahwa hidup ini begitu menyenangkan? Hidup ini begitu mudah. Sekian.

=================================================================================================

Ngo Lengo (Part 1)

25 May

Kampung ini hampir masih sama seperti ketika aku meninggalkanya. Jalan sempit beraspal kasar dengan banyak lubang disana-sini, hingga mirip dikatakan berbatu, masih sama. Rumah-rumah penduduk berpagar rapi dengan tanaman hijau berjejer, yang rata-rata mempunyai lurung yang lebih luas daripada latar.

Semua pintu dari rumah-rumah itu kebanyakan selalu terbuka sepanjang hari. Sejak matahari terbit, hingga orang-orang sudah pantas untuk naik ke tempat tidur. Seperti langit di bulan mei yang sering tak berawan, terbuka lebar. Sebuah kepercayaan yang sangat sulit ditemukan di perumahan-perumahan kota. Tidak heran ketika berkali-kali kau ketuk pintu dan mengucap salam, tidak ada yang menjawab. Tamu akan sudah terbiasa menyamperi si empunya rumah yang sedang bersantai menggelar tikar di lurung.

Tiba-tiba saja aku merindukannya. Duduk bersama Bunda, Nenek, Bibi, dan adik di lurung yang teduh bersama singkong rebus dengan sedikit garam. Untuk itulah aku pulang hari ini. Sebuah kerinduan yang sulit dimaknai. Semua orang pasti akan geleng-geleng kepala jika tahu alasanku izin satu minggu hanya untuk itu. Makanya aku urung mengatakan alasan yang sebenarnya jika ada yang bertanya. Saya memilih tersenyum dan berkata, ” Ada sedikit keperluan di rumah, Keluarga meminta saya pulang. “Lalu diantara teman-temanku berdehem, “Si kembang desa mau dapat lamaran nih.” Ada-ada saja.

Memang diantara banyak teman-temanku, hanya aku yang perantauan dari desa. Tapi aku toh selalu bangga. Kota dan desa kan hanya beda sebutan dalam tata pemerintahan saja. Yang berada di wilayah kabupaten berarti desa, sedangkan yang berada di wilayah kotamadya, disebut kota. Toh, orangnya juga sama-sama manusia. Hanya saja kota menjadi pusat kegiatan ekonomi yang akhirnya menjadi lebih komplek dan padat.

Siang selalu menuturkan kelegangan yang sama dijalan. Tak banyak orang yang berseliweran. Akhirnya aku menginjak kampung ini lagi, setelah hampir satu tahun tak sempat pulang gara-gara skripsiku yang tak kunjung jadi. Jarak yang jauh selalu membendung kerinduan akan pulang. Tidak untuk saat ini. Rindu itu sudah tak bisa tertahan. Pulang. Membelah siang yang legang di kampung. Continue reading

%d bloggers like this: