Archive | curhat lagi RSS feed for this section

[Bukan] Review “Habibie & Ainun”

19 Mar

Sebelumnya saya sampaikan bahwa ini bukan review buku ataupun film “Habibie Ainun”.  melainkan curhatan saya setelah membaca buku tersebut. Bagi yang menginginkan review buku atau film tersebut, silahkan meluncur ke tempat lain.

November 2010, Hampir setiap minggu saya dan suami ke Gramedia Merdeka Bandung. Sekedar jalan-jalan atau memang berniat belanja. Saat itu, cover “Habibie & Ainun” terpajang besar-besaran. Tetapi saya tidak berminat membeli buku tersebut. Saya tidak begitu mengenal BJ. Habibie selain sebagai seorang mantan presiden yang pintar membuat pesawat terbang. Sebatas itu saja yang saya tahu, bahkan di mata saya, beliau adalah mantan politikus. Sama sekali tidak terlintas kesan dalam ingatan saya, bahwa dia adalah seorang ilmuwan.

Pernah sekali, saya bertanya ke suami, apakah dia tidak tertarik membeli atau setidaknya melihat isi buku “Habibie & Ainun”. Dia hanya menggeleng. Saya tidak mengulangi pertanyaan itu lagi. Saya juga bersepakat, tidak tertarik. Saat itu di pikiran saya, apa menariknya buku yang ditulis oleh mantan presiden. Kehidupannya berbeda dengan kehidupan saya. Lagipula saya membayangkan, seorang BJ. Habibie pasti menulis dengan sangat formal dan mungkin membosankan untuk dibaca.

Sampai akhir tahun 2012, banyak iklan di TV tentang film yang diangkat dari buku tersebut. Acara presiden nonton bersama juga masuk infotainment. Lalu, mendadak status teman di FB banyak yang mengutip petikan-petikan di film itu. Jujur, saya takjub dengan ungkapan-ungkapan Bu Ainun. Lalu melihat trailer filmnya, Bu Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Tiba-tiba saya ingin sekali membaca bukunya. Mendadak ada perasaan tidak rela, jika akhinya saya membayangkan Bu Ainun adalah BCL.

Suatu malam, saya bilang sama suami kalau film “Habibie & Ainun” sedang rame. Suami saya hanya menanggapi singkat, “Iya kenapa?”. Saya bertanya apakah dia tidak penasaran, jawabnya datar. Ditunggu saja sebulan dua bulan pasti nanti ada di youtube, dan juga menurutnya trailernya jelek. Lalu saya bilang, bahwa saya penasaran ingin baca bukunya. Dia hanya menjawab singkat, “Ya, udah beli”. Ah, selalu begitu jawabannya ketika saya menginginkan sesuatu.

Banyak yang tergila-gila dengan kisah romantis “Habibie & Ainun”. Selepas membaca buku dan menonton filmnya, saya justru tahu, kisah cinta yang katanya sangat romantis itu, masih kalah jauh dengan kisah saya dengan suami. Saya berkali-kali bersyukur memiliki suami seromantis suami saya.

Orang barangkali boleh mengira saya tak seberuntung Bu Ainun, karena tidak mampu terus menyertai suami di manapun dia berada. Jarak memang memisahkan kami untuk sementara. Dalam jangka waktu yang telah jelas. Tetapi jarak itu tidak pernah menghalangi apapun di antara kami. Saya selalu bilang, apa bedanya jarak 1 cm dan ribuan km, kecuali hanya tidak bisa menyentuh. Dan sentuhan dengan hati, mungkin lebih dari segalanya dari pada cuma fisik. Meskipun sentuhan fisik beserta hati, jauh lebih sempurna.

Kadang ada orang bilang sama saya, yang sabar saja ya menanti suami. Kenapa harus sabar? Sabar biasanya berkonotasi ke arah penderitaan. Bahwa kita sedang mengalami cobaan. Saya selalu tersenyum dan bilang, kami tidak sedang menempuh cobaan. Jarak di antara kami adalah sesuatu yang kami rencanakan jauh-jauh hari sebelum kami bersatu. Ini bukan sebuah cobaan, bukan juga ujian. Tetapi keputusan bersama, sebuah pengorbanan yang harus kami bayar demi meraih cita-cita.

Banyak juga yang menyarankan agar saya ikut saja ke Belanda menemani suami. Tidak perlu khawatir hidup sederhana di sana. Tidak perlu khawatir dengan rejeki yang akan datang. Katanya, kalau kita yakin, rejeki akan datang dari mana saja. Apalagi di saat-saat Indonesia membatasi segala macam impor hasil pertanian. Biaya makan di Indonesia tidak begitu jauh dengan biaya di sana. Kadang-kadang saya juga berpikir sama seperti itu. Tetapi, alasan saya tidak menyertainya bukan sekedar takut tidak bisa makan di negeri orang. Bukan sekedar tidak berani hidup sederhana seperti yang bu Ainun pernah alami. Hidup di flat sempit, tidak punya mesin cuci, dan harus banyak bekerja lebih keras.

Ada banyak alasan, sehingga saya lebih baik tinggal di sini. Jika saya ikut suami, berarti kami hanya memikirkan kebahagian berdua saja. Kami punya tanggungjawab di sini, yang orang lain mungkin tak akan pernah bisa mengerti. Sekali lagi, jarak ini adalah pilihan kami bersama. Bukankah sebuah cita-cita selalu memerlukan pengorbanan untuk membayarnya?

Banyak orang meleleh melihat kutipan-kutipan dalam kisah “Habibie dan Ainun”. Kutipan-kutipan yang membuat saya penasaran ingin ikut membaca buku dan menonton filmnya. Saya tidak bermaksud membandingkan hidup keluarga saya dengan hidup bapak mantan presiden. Tentu saja berbeda dalam kapasitas masing-masing. Saya justru sangat bersyukur dengan kehidupan rumah tangga saya.

Saya sangat beruntung memiliki pendamping seperti suami saya. Dia yang tidak pernah berbuat apapun kecuali seijin saya. Tidak pernah memutuskan apapun, kecuali dengan keputusan saya. Dengan segala kesibukannya, tetap membagi waktu untuk memperhatikan saya. Yang meski sedang tertekan dengan tugas kuliah, tetap bersedia saya ganggu dengan hal-hal yang tidak penting.

“Kita ini orang beruntung ya, Ma” kata suami saya tengah malam kemarin, saat dia sedang sibuk mengejar deadline tugas.

“Kenapa?” Tanya saya.

“Karena kita berjodoh, Papah punya istri mamah, yang bisa mengerti Papah,” Jawabnya, sementara saya diam saja. Meskipun saya biasa dipuji, tetap saja saya tersanjung di setiap kalimatnya. Suami saya mampu membuat saya jatuh cinta berkali-kali, setiap waktu. Dia yang tetap memanggil saya cantik, meskipun baru bangun tidur.

Sepertinya, saya harus mengakhiri tulisan ini. Dan segera memulai halaman pertama buku tentang kami. Bukankah itu ide bagus? Tapi untuk jadi best seller mungkin nunggu suami saya jadi presiden kali ya terbitnya 😛

Berusaha Melipat Kenangan

20 Apr

Rasanya menapaki bulan April ini sangat berat. Tahun seperti berkurang satu. Hari-hari berjalan mundur. Seolah saya terlempar kembali ke 2011. Masih lekat sekali dalam ingatan, bulan april setahun lalu saya dan suami sedang berbahagia. Mencari-cari nama yang cocok untuk buah hati kami. Sambil terus menulis tambahan untuk naskah buku yang sedang kami persiapkan. Sebuah buku yang kami janjikan sebagai kado untuk menyambut kelahiran putri kami.

Sampai saat ini saya belum bisa bercerita dengan baik mengenai apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan saat-saat persalinan. Bukan karena saya dibius di meja operasi. Bahkan saya masih mengingat semua detilnya. Mengingat suara dentingan alat-alat bedah. Doa-doa dan semua harapan, yang jelas, saya seperti terhempas dari mimpi indah yang sangat panjang. Saya dan suami saya. Kami harus menerima kenyataan bahwa buah hati kami tidak akan berumur panjang.

Setelah hari itu hidup saya serasa berakhir di bulan Mei. Saya selalu berharap waktu berputar lebih cepat, ke masa depan yang sangat jauh. Di mana kami akan diberi kebahagian sebagai ganjaran atas sabar yang kami derita. Tapi nyatanya satu menit yang berjalan masih menunggu detik ke-60. Semuanya melambat. Berbulan-bulan saya tenggelam dalam kesedihan. Alhamdulillah di samping saya ada suami yang sangat hebat. Meski nyatanya jarak puluhan ribu kilometer membentang, dia mengajari saya bagaimana melewati waktu dengan menyenangkan. Akhirnya dia memaksa saya menulis di bulan Agustus. Seperti membuka episode baru dalam perjalanan hidup. Saya mendeklarasikan diri sebagai penulis, meski hanya dalam hati saya sendiri.

Awalnya saya ingin menulis fiksi. Agar kesedihan tidak terus membenam dalam diri. Tapi kata suami saya, “Mamah jangan nulis fiksi, fiksi itu ga ada uangnya,” saya Cuma nyengir.

“Emang kita nulis nyari uang?” tanya saya bodoh.

“Ya iya dong, kalau mau kaya, jadi penulis jangan amatiran,” jawabnya.

“Tapi Mamah kan belum bisa nulis, baru belajar,” Sebenarnya dalam hati, saya selalu minder dan selalu merasa belum bisa menulis.

“Menulis itu yang penting melakukan, bukan memikirkan atau merasakan. Tulis saja, baru kalo sudah jadi baca ulang, pikirkan, rasakan, perbaiki. Jangan belum apa-apa maunya sempurna,” kata suami saya.

“Pokoknya 1 bulan 1 naskah buku,” kalimat ini terdengar mirip paksaan. Tapi saya melakukannya dengn senang hati. Jenuh, pastinya ada. Setelah satu naskah selesai satu bulan saya berhenti menulis.

“Emangnya ada yang mau nerbitin tulisan Mamah?” tanya saya.

“Ada dong, sekarang pilih penerbit yang cocok, ajukan proposal,”

“Tapi naskah ini jelek, mana ada yang mau nerbitin,”

“Wong belum dicoba kok nyerah duluan,”

Saya mulai lupa dengan ikrar menjadi penulis dalam hati itu. Setelah Bapak saya gusar dengan kelakuan saya yang sehari-hari cuma di kamar. Beliau mencarikan saya kerjaan. Mengajar di sekolah yang sangat jauh dari rumah. Beberapa bulan, baru saya bisa menyesuaikan dengan jadwal. Mulai menulis lagi.

Beberapa waktu lalu saya menambahkan freelance writer ke daftar pekerjaan saya di profil info FB. Hal itu akhirnya menuai protes dari suami. “Mamah kok kerjaannya freelance sih?”

“Loh emang kenapa? Kan Papah yang pengen Mamah menyatakan diri sebagai penulis,”

“Iya, Mamah itu penulis tapi bukan freelance, freelance itu asosiasinya serabutan. Karena ga ada kerjaan lain gitu!” jawab suami saya. Dengan bodohnya saya menjawab,

“Ooo, freelance itu artinya serabutan ya, mamah baru tahu, kirain bukan begitu artinya,”

“Pokoknya diganti,” katanya lagi.

“Diganti apa dong? Writer aja? Ntar orang salah baca jadi dikira waitress lagi. Ga mau ah,” lagian siapa sih yang ngintip profil info saya :P.

“Ya profesional writer atau profesional book writer atau fulltime writer atau apa gitu, wong Mamah kan bekerja sepenuh hati, kalo freelance tuh kesannya ga sepenuh hati gitu,”

“Iya deh,” akhirnya saya ganti juga jadi book writer.

“Kok iya deh? Yang kita kerjakan sepenuh hati harus kita hargai sepenuh hati dong, wong kalau nerima royalti aja sepenuh hati senangnya.”

Sekedar curhat,  melipat kembali kenangan-kenangan yang seharusnya tersimpan. Rasanya tak sabar menunggu bulan berikutnya. Menantikan buku-buku saya terbit dan naskah-naskah baru tercipta. Menirukan salah satu iklan sufor “Lets call on the curious and bring on the hope. Life starts here.

Mimpi yang Sempurna

30 Dec

Wisma Dinkes Ambarawa, 31 Desember 2008. Tiba-tiba saja saya teringat hari itu. Kurang sehari lagi, hari itu akan genap membilang 3 tahun berlalu. Hari itu saya adalah mahasiswa semester 5 dan salah satu karyawan Campusnet –warnet besar di Semarang. Kenapa di Ambarawa? Ceritanya sedang ada acara yang diadakan Campusnet yang bertempat di Ambarawa. Acaranya tentang refleksi akhir tahun dan resolusi tahun baru. Kami disuruh membawa foto-foto tentang orang yang paling berarti dalam hidup kita. Banyak dari kami yang membawa foto-foto keluarga, foto pacar, foto sahabat, dll. Dari foto-foto itu, kami harus menuliskan diskripsi singkat tentang foto itu.

Saat itu saya hanya membawa foto seseorang di depan menara Eiffel. Deskripsinya sangat singkat: Dia sahabat, yang mengenalkan pada saya tentang mimpi, harapan, cita-cita dan cinta. So sweet ya? :D. Dulu saya hanya mengambil foto itu dari blognya. Ijin lewat sms untuk memprint fotonya dan membawanya untuk tugas. Tentu saja dia bertanya-tanya kenapa saya memilih fotonya. Hahay, saat itu cinta masih samar-samar ya sayang :P. Sementara dalam hati saya membatin, kenapa saya memilih fotonya, karena dia termasuk resolusi besar saya di tahun baru yang akan datang, 2009. Saya harus bertemu dengannya, dan memperjelas hubungan kami. 😀

Continue reading

Cita-cita dan Cinta

9 Aug

Apa cita-citamu waktu kecil? Jadi dokter, pramugari, perawat, guru, pedagang? Atau jangan-jangan ingin berguna bagi nusa dan bangsa? :D. Kerap kali anak-anak menjawab itu ketika ditanya tentang cita-cita. Tidak hanya anak zaman dulu ya, mungkin masih banyak anak-anak zaman sekarang menjawab seperti itu ketika ditanya tentang cita-cita. Sebenarnya siapa sih pencipta pertama cita-cita “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”? Ada yang tahu?

Saya tidak tahu apa saja profesi yang kerap kali berkelindan di benak anak-anak. Pertama kali saya mengenal cita-cita, kelas 1 SD. Seandainya saya pernah masuk TK, mungkin saya akan mengenal cita-cita ketika seusia Upin-Ipin dkk. Sejak saat itu saya ingin menjadi guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, memakai baju bagus, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Namanya juga anak-anak. Belum jelas apa maunya. Demi cita-cita itu, saya sering bertingkah sendiri di depan kaca, seolah-olah sedang menjadi guru. Malu mengingat kekonyolan semasa kecil.

Sampai umur bertambah ternyata kalau ditanya cita-citanya ingin jadi apa, tetap jawabnya ingin jadi guru. Tapi tentu saja imajinasinya bertambah. Ketika pelajaran IPS tentang transmigrasi, maka saya berkhayal jika besar nanti saya ingin ikut program transmigrasi yang diadakan pemerintah -Btw, sekarang masih ada program transmigrasi ga ya?- . Saya akan membangun rumah kecil yang sederhana. Berisi satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu. Ketika pelajaran IPA tentang holtikultura, maka saya menginginkan rumah saya dilengkapai dengan pekarangan yang sangat luas. Akan ada apotik hidup, palawija dan aneka ragam bunga-bunga yang mekar di sana. Yang akan menjadi aktivitas saya setiap sore. Karena profesi saya nantinya jadi guru, jadi kan cuma bekerja setengah hari. Saya juga ingin kolam di pekarangan saya, biar pikiran bisa senantiasa sejuk. Lalu, jika malam hari, saya akan mengundang anak-anak untuk belajar di rumah saya. Maka, saya harus mempunyai banyak buku cerita agar anak-anak tertarik datang ke rumah. O lala, begitu indah ya? 😀

Continue reading

Maaf, Email Saya di Rumah

14 Dec

Ini tentang aktivitas jadi operator warnet. Dari dulu, pasti kalau saya cerita tentang kerjaan itu selalu saja keluh kesah. Seolah saya begitu terpaksa melakukan pekerjaan itu. Hampir dua tahun saya menjalaninya, sepertinya tidak benar jika saya melakukan kerjaan itu sepenuhnya dengan terpaksa. Ok, hari ini saya tak ingin berkeluh kesah lagi. Karena mood saya lagi baik dan demi mempertahankan mood yang baik itu saya ingin berbagi tawa. Lagi-lagi tentang cerita konyol.

Saya lupa kejadiannya kapan, pokoknya sudah lama. Seorang Bapak setengah baya datang, penampilannya rapi, bersepatu dan baju masuk.

“Mbak, di sini bisa mengirim foto?” tanyanya.

“Bisa, Pak,” jawab saya pendek.

“Tolong kirimkan foto-foto ini ke sini ya Mbak,” katanya sambil menyodorkan beberapa lembar foto dan menunjukkan alamat email dari HP nya. Saya menerima lembaran foto itu dan memasukkannya dalam scanner.

“Silahkan masuk ke email Bapak,” saya memberikan keyboard dan membalikkan monitor ke arahnya. Bapak itu nampak bingung.

“Bapak punya email kan?” tanya saya.

“Iya Mbak, saya punya email tapi email saya di rumah,”

Gubrakkkkk!!!!!!! ???????????????

Andai saja saya tak berhasil menahan tawa, mungkin Bapak tadi merasa malu dan mencari-cari apa yang salah dari ucapannya.

Cerita serupa, Ibu-ibu dengan dandanan menor masuk dan berkata, “Mbak saya mau pake internet, tapi tolong saya dikasih tahu cara makainya, saya ga pernah pakai internet di warnet biasanya saya di rumah,

“Iya Bu, silahkan masuk di nomor 3,” jawab saya. Lalu saya log in kan langsung dari billing dan mengirimkan pesan “Silahkan dipakai Bu,”

Agak lama, Ibu itu keluar. “Mbak, saya itu ga pernah pakai internet di warnet, biasanya saya pakai di rumah, tolong sini,” katanya.

Seraya berjalan, saya berpikir, apa yang berbeda antara internet di sini dengan internet yang di rumah Ibu itu? Barangkali bentuk komputernya berbeda atau shortcut yang ada di dekstop berbeda sehingga Ibu itu bingung. Lalu saya bukakan browser mozilla untuk Ibu itu. “Silahkan Bu,” kata saya.

Mbak saya itu mau browsing, tapi saya ga bisa pake warnet biasanya saya pake di rumah,” katanya lagi. Kali ini saya benar-benar bingung. Apa yang Ibu itu tidak bisa kalau Ibu itu biasa pakai internet di rumah.

?????????

Frequention Hope

12 Dec

Alkisah, seorang sopir asal jawa lagi nyetirin boss bule Amrik, kebetulan lagi sial. Mobilnya nyodok kendaraan di depannya karena mendadak berhenti. Dengan ter-bata2 ia minta maaf kepada si boss:

“Sorry Sir, I brake brake, do not eat. After I Check, the wheel no flower gain”. (maaf pak saya rem-rem nggak makan, setelah saya cek rodanya nggak ada kembangannya lagi).

Begitu si Boss mau ikutan ribut sama yg ditabrak, dia bilang,

“Don’t follow mix Sir! the bring that car if not wrong is the children fruit from manager moneys, he stupid doesn’t play! let know taste” (nggak usah ikut campur pak, yang bawa mobil itu kalo nggak salah anak buah dari manajer keuangan, dia memang goblok bukan main, biar tahu rasa).

Besoknya si supir gak masuk kerja, terus pas lusanya dia masuk si boss bule nanya:

“why you’re not coming?”

Jawab si supir: “I am sorry boss, my body is not delicious, my body taste like enter the wind”. (maaf boss badan saya tidak enak, badan saya rasanya seperti masuk angin).

“I really don’t know whats your point!”, kata bossnya.

“yes how yes?…. I am alone migrain Sir will how the speak , but yes already, how many-how many, people Java can speak England…” jawabnya. (serius ya .. gimana ya?… saya sendiri puyeng Pak mau bagaimana ngomongnya, tapi yo uwis lah.. piro-piro wong jowo iso ngomong Inggris).***cerita dari sini

Geli rasanya membaca cerita di atas. Bagaimana misalnya kita  menyaksikan langsung? Apakah kita bisa untuk tidak tertawa seketika? Lalu bagaimana pula seandainya kita jadi orang yang konyol seperti si sopir Jawa itu? Apakah kita sadar kalo kita ditertawakan?

Cerita seperti itu saya alami ketika saya PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di SMA 3 Semarang yang merupakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) beberapa bulan yang lalu. Ketika sedang mengawas UHT (Ulangan Harian Terpadu), ada seorang siswa yang minta ijin untuk ke belakang dan berkata, “My body is not delicious, I am stomachache“. Hendak tertawa, tapi saya tahan. Hanya senyum yang hampir meledak.

Lalu di kelas, ketika sedang berlatih mengajar di kelas XI materinya tentang peluang. Saya mengikuti cara guru yang mengajar di kelas itu. Biasanya guru mengajar dengan bilingual, yaitu menjelaskan materi dengan bahasa Indonesia disertai menulis dengan bahasa Inggris. Kali itu topiknya tentang frekuensi harapan. Ketika saya mengucapkan bahwa frekuensi harapan kejadian A adalah banyaknya kemunculan A dalam beberapa kali percobaan yang dilakukan. Artinya frekuensi kejadian A adalah banyaknya peluang kejadian A dikali dengan banyaknya percobaan.  Saya menulis di papan tulis:

E (A) = P (A) x n

E (A) = Expectation of A

P (A) = Probability of A

n       =  number of experiment

Seorang siswa tiba-tiba tunjuk jari dan bertanya, “Kok simbolnya E? Kok expectation? Kemarin diterangkan gurunya frekuensi harapan itu fh,  frequention hope?” Saya tak langsung menjawab, barangkali gurunya benar kalau frekuensi harapan itu bahasa inggrisnya frequention hope. “Yang saya tahu istilah matematika dari frekuensi harapan itu ekspektasi, bahasa inggrisnya expectation,” jawab saya hati-hati karena sang guru menyimak di belakang.

Sekeluar saya dari kelas, terus saja saya memikirkan tentang frequention hope dan berjalan senyum-senyum sendiri. Ada-ada saja. Dan selanjutnya saya benar-benar tidak bisa menahan tawa ketika teman saya bercerita bahwa seorang siswa bercerita, dalam materi lingkaran gurunya menyebut jari-jari dengan fingers. 😀

Ternyata ada yang lebih parah dari saya yang tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun miris dan sangat berhati-hati kalau-kalau saya melakukan hal yang memalukan. Barangkali benar, kita tak pernah belajar kalau kita takut salah. Alesan!!

Kenapa 2 + 2= 4?

27 Sep

Aku pernah melihat api, aku pernah melihat hujan

Aku pernah melihat hari-hari yang baik

yang ku pikir tak pernah berakhir

Aku pernah melihat kesepian

Saat tak ku temukan seorang pun teman

Tapi aku selalu berpikir,

bahwa aku akan selalu bertemu denganmu

~ James Taylor~

Kemarin kau bertanya, pernahkah aku merasa sendirian. Aku hanya mengangguk. Selanjutnya aku hanya tersenyum ketika kau bercerita, bahwa kau tiba-tiba merasa sendirian. Sepi di mana-mana. Aku kenal dengan perasaan itu. Perasaan yang mirip-mirip dengan perasaan kehilangan, adalah milikku sebelum aku mengenalmu.

Kau kembali menceritakan hari-harimu yang telah lalu. Ketika kau merasa terdampar sendirian di negeri orang.  Sepi. Aku menyimak dan tak bisa berkomentar.

“Apakah aku tak cukup menemanimu?” potongku sebelum kalimatmu berhenti. Kau tahu, pertanyaan ini beserta rasa takut. Kau tak pernah menceritakan kesepianmu selama bersamaku. Meski mungkin kau tak pernah menyangka, aku seringkali bertanya tidakkah sesekali kau merasai sepi?

“Tidak, bukan begitu, aku sangat bahagia ada kamu menemaniku,” jawabmu yang entah seperti terdengar untuk membuatku tak tersinggung. Sebaik mungkin, tak ku tunjukkan bahwa aku terluka atas cerita itu. Apakah aku tak cukup menemanimu? Aku diam dan kau beralih cerita.

Tentang kangenmu, cintamu, dan hari-hari esok yang cerah jika kita bersama nanti. Selalu seperti itu. Ah, apakah hanya itu yang selalu dibicarakan oleh semua orang yang sedang jatuh cinta? Aku tak tahu, yang jelas aku mencintaimu sebaik kau mencintaiku, barangkali lebih.

“Cinta,” panggilmu.

“Kenapa 2 + 2 = 4?” tanyamu. Kau mengalihkan cerita lagi. Aku tersenyum menyembunyikan kalutku, menyembunyikan pertanyaan yang tak ingin jawaban.

“Apakah kau bosan bercerita tentang cinta, Mas?” pertanyaan itu getir dan tak akan aku ucapkan.

“Cinta? Kenapa?” aku tak segera menjawab. Karena aku tak memikirkan pertanyaanmu. Tahukah kau, Mas? Aku takut kehilanganmu.

“Karena jika 2 + a=4, a= 2,”  jawabku asal.

“Kalau 2 + 2 = …?”

“4”

“Kenapa 4?”

“Karena dalam garis bilangan, jika kita bergeser ke kanan 2 langkah dari angka 2 maka akan bertemu angka 4,”

“kenapa jika kita bergeser ke kanan 2 langkah dari angka 2 maka akan bertemu angka 4?” tanyamu lagi.

“Dulu kita selalu berbicara tentang hal-hal seperti ini, karena itu aku suka padamu,” katamu, mengenang awal-awal perkenalan kita. Lagi-lagi aku tersenyum. Entah perasaan macam apalagi yang ku sembunyikan saat aku mendengar satu alasan tentang cintamu.

Mas, kali ini sepimu menyergapku. Setelah semalam tadi waktu begitu lama  terasa. Ketika aku harus menahan kangen ini untuk menjadi milikku sendiri.

Kau tahu Mas, mungkin berlebihan, tapi ini benar. Bahwa hanya ada kita berdua, aku dan kau dalam semua hari-hariku. Saat kau tak ada, semua juga tak ada. Tak ada yang bisa aku lakukan, linglung.

Maaf Mas, mengatakan ini. Karena aku tak bisa menyembunyikan apa pun dari mu. Termasuk tangisku yang tak berhenti sejak dini hari yang baru kau temukan pagi tadi.

Tangis itu bukan sedih, Mas. Barangkali cinta kita mulai dewasa. Dan hatiku masih seperti anak-anak yang perlu sakit ketika berhasil melewati satu tahapan. Semoga benar, bahwa ini adalah tanda kedewasaan cinta kita. Seperti katamu Mas, cinta itu menunjukkan jalan yang benar. Iya kan?

Mas, aku tak sempurna. Tapi cintamu menyempurnakanku. Membuatku seolah bidadari.

Mas, kenapa 2 + 2= 4? Mau tahu jawabku Mas? Karena aku sayang kamu. :-p 🙂 😀

Sebuah Kejutan di Akhir Pekan

9 May

Teringat salah satu kata teman saya, jika kita tersenyum kita membutuhkan otot yang lebih sedikit untuk menggerakkan bibir ke kanan dan ke kiri dari pada ketika kita cemberut, melipat wajah yang berarti melipat gandakan otot yang bekerja. Efeknya tubuh kita akan banyak mengeluarkan energi lebih banyak ketika kita cemberut.

Nah, kadang-kadang saya merasa beruntung karena saya bekerja sebagai pelayan publik. Yang setiap hari kerjaannya hanya tersenyum saja. Selalu ada senyum walaupun kadang terpaksa. Saya bersyukur dengan kerjaan yang mewajibkan saya untuk selalu tersenyum, kepada siapa saja dalam keadaan apa saja, secara tidak langsung saya telah menghemat energi. 🙂

Beberapa waktu yang lalu, ketika sudah lama tidak menulis di blog, saya menemukan sebuah komen di salah satu postingan yang sudah sangat lama. Seseorang yang meninggalkan komen itu tidak menunjukkan identitas dengan jelas.

Tuch yang harus di jaga yach mbak2x and mas2x yg jaga nggak ramah samah sekali and sombong2x lagaknya kaya yang poenya…!!

Sejenak, saya tertegun membacanya. Ternyata selama ini, saya belum melakukan pekerjaan saya dengan baik. Terbukti dengan komen di atas, yang bisa saya tebak, si komentator adalah user campusnet di mana saya bekerja. Operator juga manusia, begitu seringkali saya dan teman-teman berapologi ketika melakukan kesalahan. Lupa tersenyum gara-gara capek. Lupa mengucapkan terima kasih gara-gara sedang kesal dengan tugas-tugas kuliah yang seabrek-abrek. Atau melupakan prosedur kerja yang remeh-temeh itu.

Kemudian, saya menebak-nebak. Mengingat-ingat, apa yang saya lakukan di hari sang komentator menuliskan uneg-unegnya. Apa yang terjadi dengan saya. Ugh, beberapa waktu terakhir, saya seringkali tidak menikmati acara tersenyum dengan user gara-gara memendam sesuatu. “Jangan bawa-bawa urusan rumah tangga dalam kerjaan dong, Bu!” Ledek Pak GM yang tiap pagi berkunjung dan sukses membuat saya makin sewot gara-gara dipanggil “Bu”, kesannya bermutu (bermuka tua) banget.

Oke. Siapa pun dia yang memberi komentar tersebut, saya berterima kasih. Pertama, sudah menemukan dan membaca blog saya. Kedua, sudah mau mengatakan dengan jujur kesalahan saya. Dan yang lebih penting, akhirnya membuat saya mengevaluasi diri saya, dan kembali tersenyum dengan ikhlas. 🙂

Tiba-tiba suatu sore seminggu lalu, ketika saya sedang bekerja sambil mengetik makalah untuk memenuhi tugas UTS kuliah saya, ada dua orang cowo-cewe seperti kakak beradik, masuk. Seperti biasa, saya tersenyum dan menyapa. Mereka terlihat sedang bingung dan tidak tahu mau mengatakan apa, saling dorong-mendorong.

“Ada yang bisa saya bantu Mbak-Mas?” tanya saya akhirnya.

“Mmm, ” yang cewe melihat ke yang cowo dan berbisik “Kamu aja.” Sementara saya semakin bingung melihat kebingungan mereka.

“Gini mbak,” akhirnya si cowo membuka suara. “Dia kan member Campusnet di sini, sering main di sini,” pandangan saya terpaksa meninggalkan monitor demi menyimak kalimat-kalimatnya yang sepertinya akan panjang.

“Begini, dia mau minta maaf karena sudah pernah membuat kesalahan yang membuat dia tidak tenang,” lanjutnya. Saya masih bingung mengikuti ceritanya. Saya melihat wajah keduanya. Ada perasaan bersalah yang tidak dibuat-buat di wajah si cewe.

“Maaf mbak-mas, maksudnya kesalahan apa?” tanya saya akhirnya, karena mereka mengambil jeda agak lama.

“Saya kan pernah main di sini mbak, terus saya googling nemu blog mbaknya. Terus saya ngasih komen ngata-ngatain mbaknya gitu,” kata si cewe. Saya tertegun sejenak. Kemudian saya tersenyum. Membiarkan dia melanjutkan kalimatnya.

“Saya merasa bersalah mbak, udah ngata-ngatain mbaknya. Saya ga tenang. Beberapa hari ga bisa tidur nyenyak gara-gara merasa salah mbak,” katanya lagi. Saya terdiam dan dia berhenti berkata-kata.

“Maaf ya mbak, kalau pelayanan kami mungkin kurang berkenan,” akhirnya saya memilih kalimat itu.

“Bukan mbak, saya kok yang salah,” katanya lagi.

“Iya, kami juga minta maaf ke mbak, mungkin dalam melayani kami kadang-kadang lupa jadi mbak merasa tidak nyaman, kami minta maaf ya mbak,” kata saya. Lalu serta merta, si Mbak itu mengulurkan tangannya dan saya menjabatnya. Tak terbayangkan, si Mbak itu hendak mencium tangan saya. Refleks, saya menariknya.

Saya tak pernah menyangka, akan ada ikatan emosional antara user dengan saya. Sapaan yang mirip basa-basi tanpa ekspresi ternyata memang tidak nyaman dilihat. Senyum yang terpaksa dan tidak tulus memang tidak sedap dirasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada orang meminta maaf demi kesalahan saya. Demi saya yang tidak tulus memberikan keramahan. Demi ketidaknyamanannya yang membuat dia mengata-ngatai saya, meskipun lewat blog. Dan yang lebih membuat saya terharu dan salut, masih ada orang yang dengan ksatria minta maaf secara langsung.

Baiklah, sejak hari itu saya bertekad belajar tersenyum dengan tulus. Bukan basa-basi dan prosedur pekerjaan. Saya percaya, saya tidak pernah rugi untuk tersenyum. Selain hemat energi itu akan membuat orang lebih nyaman dengan kita, bukan? Yuk, senyum. 🙂

Yuk, Memperbaiki Memori!

15 Jan

Dulu saya tidak pernah mengerti. Kenapa Ibu selalu bela-belain di dapur pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan sebelum saya berangkat sekolah. Dan tak pernah berhenti ngomel-ngomel ketika saya tidak mau sarapan. Minimalnya, di meja makan setiap pagi selalu ada nasi, telur entah rebus, dadar, atau ceplok juga secangkir kopi untuk Ayah dan 2 gelas teh untuk saya dan adik saya.

Sekarang hidup jauh dari rumah, tidak ada lagi Ibu yang menyiapkan sarapan setiap pagi. Sarapan bagi saya seperti sudah menjadi tradisi, kadang-kadang jadi repot sendiri. Karenanya sarapan adalah hal wajib seperti mandi, jadi harus dipenuhi. Padahal, bagi teman-teman di kosan saya sarapan sama sekali bukan hal penting.

Teman sekamar di kos sudah paham dengan kebiasaan saya sebelum keluar pagi-pagi. Seringkali, kalau tidak menghentikan tukang bubur ayam keliling pasti makan beberapa helai roti tawar yang diolesi mentega dan minum teh. Biasanya saya menyapanya, “Mbak, memperbaiki memori, yuk!”. Saya memilih istilah memperbaiki memori untuk menyebut sarapan, karena mereka sering menyindir saya, “Kayak ayam aja pagi-pagi udah makanan yang dipegang.”

Belakangan, saya baru tahu ternyata banyak sekali manfaat sarapan. Bahwa sarapan membuat otak kita bekerja lebih baik seperti yang dipaparkan di sini atau di sini juga dan masih banyak yang lainnya. Sebisa mungkin saya tidak pernah melewatkan momen sarapan. Meski saya tahu, kadang-kadang yang saya makan bukanlah menu sarapan yang baik, tetapi hanya pengganti sarapan saja seperti ini.

Sarapan

Sambil menyantap Pop mie, saya menulis ini. Bagaimana dengan pagimu hari ini, teman? Apa kabar? Yuk, memperbaiki memori! 😀

Menunggu Hujan, Gamelan dan Perempuan (Jawa)

8 Jan

Kampus sepi. Maklum, sudah mulai liburan. Tapi saya masih kuliah, ambil semester pendek (SP) untuk mengulang mata kuliah Psikologi Pendidikan. Gara-gara dapat nilai 2,0 dan ditertawakan habis oleh teman-teman semua. Bahkan ketika terpampang nama saya dalam daftar mahasiswa yang ikut SP di papan informasi, teman-teman semua ngakak. Entahlah, saya tidak tahu, benarkah saya sedodol itu sehingga belajar saya cukup dinilai dengan angka segitu. Padahal teman saya yang sering mbolos dan tidak ikut tes mid semester saja mendapat nilai A. Tapi whatever lah, kalau memang harus belajar lagi ya belajar lagi 😀 .

Hujan siang hari, mengurungkan niatku untuk segera pulang. Masuk ke lab, dan hanya ada dua petugas di situ. Tahu tidak apa yang membuatku bisa berlama-lama duduk di sini kali ini? Bukan karena sedang chat dengan seorang teman, atau mengerjakan tugas. Tapi musik yang mengalun di sini. Boleh ditebak musik apa? Bukan lagunya Avenged Sevenfold “Seize The Day” yang sering saya dengar diputar berulang-ulang. Tapi gending Jawa yang diiringi gamelan.

Heran, saya tidak tahu kenapa petugas lab tiba-tiba memutar musik-musik Jawa itu. Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saya menikmati suasana yang diciptakan oleh musik itu. Siang, hujan dengan musik yang seperti itu. Pikiran saya melayang ke mana-mana, sambil membaca blog-blog orang. Tidak ada emosi karena koneksi yang tiba-tiba anjlok, Lola (loading lama) banget. Musik Jawa yang slow ini menghembuskan suasana rileks dan ngantuk yang nikmat 😀 . (Dasar pemalas!)

Membaca tulisan berjudul “How Jawa are You?” disini, saya teringat bahwa saya adalah keturunan Jawa asli. Bapak saya berasal dari kota kecil di Jawa Timur, Jombang. Sedangkan Ibu saya berasal dari Jepara. Saya sendiri dilahirkan di Bumi Kartini itu. Memang harus diakui, tak banyak orang yang bisa dengan bangga menyetel lagu-lagu Jawa. Makanya saya heran ketika musik-musik yang biasanya hanya saya dengar di resepsi pernikahan yang masih memakai adat Jawa. Rasanya terdengar ga banget dan aneh ketika diputar di sini, di laboratorium komputer. 😀

Apakah saya termasuk orang yang bangga dengan kejawaan saya? Entahlah, saya sejak kecil hidup di tanah Jawa. Dan tidak ada orang yang bertanya tentang kejawaan itu. Wajah saya sudah menunjukkan secara jelas bahwa saya orang Jawa dan itu tidak salah. Meskipun nama yang diberikan oleh orang tua saya sama sekali tidak menunjukkan bahwa saya orang Jawa. Karena saya belum pernah keluar dari tanah Jawa, saya belum pernah mengalami hal-hal yang bersangkutan dengan ras itu.

Tetapi, sebagai perempuan yang hidup di Jawa, selama ini ada yang tidak saya sukai dari kejawaan itu. Salah satunya adalah ketidaktegasan, bentuk ewoh-pekewoh wong Jowo yang dikenal penuh basa-basi. Apalagi dengan bagaimana perempuan dicitrakan dalam karya-karya sastra Jawa kuno. Saya memang bukan penikmat sastra jawa. Atau karena itu saya tidak bisa menangkap makna yang seharusnya ingin disampaikan. Misalnya dalam Kitab “Clokantara” disebutkan:

“Tiga Ikang abener lakunya ring loka/ iwirnya/ ikang iwah/ ikang udwad/ ikang janmasri// yen katelu/ wilut gatinya// yadin pweka nang istri hana satya budhinya/ dadi ikang tunjung tumuwuh ring cila//”

Artinya: “Tiga yang tidak benar jalannya di bumi yaitu sungai, tanaman melata, dan wanita. Ketiganya berjalan berbelit-belit. Jika ada wanita yang lurus budinya akan ada bunga tunjung tumbuh di batu.”

Jelas bagaimana wanita dicitrakan dalam kalimat tersebut. Bahwa wanita disamakan dengan sungai dan tanaman melata yang berbelit-belit. Dan adalah ketidakmungkinan wanita untuk bisa mempunyai pendirian. Karena tidak akan ada bunga tunjung yang tumbuh di batu.

Juga tentang bagaimana perempuan dibandingkan dengan laki-laki dalam “Serat Paniti Sastra”:

“Wuwusekang wus ing ngelmi/ kaprawolu wanudyo lan priyo/ Ing kabisan myang kuwate/ tuwin wiwekanipun/..”

Artinya: “Katanya yang telah selesai menuntut ilmu, wanita hanya seperdelapan dibanding pria dalam hal kepandaian dan kekuatan serta kebijaksanaanya.”

Tidak ada kesetaraan di sini, antara pria dan wanita. Wanita hanya seperdelapan dari pria dalam hal kepandaian, kekuatan dan kebijaksanaan.

Setidaknya ada empat term di Jawa yang digunakan untuk menyebut perempuan.

– Wadon

Berasal dari bahasa Kawi “Wadu” yang artinya kawula atau abdi. Secara istilah diartikan bahwa perempuan dititahkan di dunia ini sebagai abdi laki-laki.

– Wanita

Kata wanita tebentuk dari dua kata bahasa Jawa (kerata basa) “Wani” yang berarti berani dan “Tata” yang berarti teratur. Kerata basa ini mengandung dua pengertian yang berbeda. Pertama, “Wani ditata” yang artinya berani (mau) diatur dan yang kedua, “Wani nata” yang artinya berani mengatur. Pengertian kedua ini mengindikasikan bahwa perempuan juga perlu pendidikan yang tinggi untuk bisa memerankan dengan baik peran ini.

– Estri

Berasal dari bahasa Kawi “Estren” yang berarti panjurung (pendorong). Seperti pepatah yang terkenal, “Selalu ada wanita yang hebat di samping laki-laki yang hebat”

– Putri

Dalam peradaban tradisional Jawa, kata ini sering dibeberkan sebagai akronim dari kata-kata “Putus tri perkawis”, yang menunjuk kepada purna karya perempuan dalam kedudukannya sebagai putri. Perempuan dituntut untuk merealisasikan tiga kewajiban tiga kewajiban perempuan (tri perkawis). Baik kedudukannya sebagai wadon, wanita, maupun estri.

Ah, kenapa jadi sepanjang ini saya menulis tentang perempuan di Jawa. Apakah karena lagu-lagu gamelan itu dinyanyikan oleh perempuan. Pikiran saya melayang-layang dan saya membiarkan saja jari-jari menari di atas keyboard.

__________________________

Kalimat dalam Kitab “Clokantara” dan “Serat Paniti Sastra” di atas saya kutip sebagaimana dikutip oleh oleh Johanes Mardimin dalam esainya yang berjudul “Citra Wanita Dalam Karya-karya Sastra Jawa Lama” di buku “Kumpulan Esai: Kisah dari Kampung Halaman” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

%d bloggers like this: