Archive | Ga penting RSS feed for this section

Saya Galak?

21 Apr

Dulu awal-awal ngeblog tahun 2008 an, saya mengunggah sebuah foto di halaman “siapa saya”. Orang pertama yang melihatnya adalah suami saya. Dulu sih belum jadi suami, belum begitu kenal, dan belum pernah melihat gambar wajah saya sama sekali. Tiba-tiba dia menyapa di YM.

Dia : Itu foto kamu ya?

Saya: Iya.

Dia: Boleh jujur ga?

Saya: Boleh dong, kenapa?

Dia: Engga ah, takut marah.

Saya: yeee… ayo dong, jangan bikin penasaran.

Dia: Kamu itu galak ya?

Saya: What?

Dia: Mmm… sedikit angkuh gitu.

Saya diam, mungkin dia merasa bersalah.

Dia: mungkin karena kamu mahasiswa pendidikan matematika kali ya, aura-aura galak guru matematikanya udah keliatan.

Saya: wew!! 😛

Sejak saat itu, saya menghapus foto yang katanya galak itu. Saya belajar tersenyum di depan kamera. Melukis senyum semanis mungkin. Agar tidak terkesan galak.

Nah, gimana kalo sekarang?

galak

Di pantai Anyer bersama adik ipar dan sepupu

Waktu saya ngajar tahun lalu, di akhir tahun ajaran saya meminta komentar dari siswa-siswa.

ngajar

Saya di kelas

Entah obyektif atau cuma karena takut dikasih nilai jelek, banyak siswa yang bilang saya tidak galak :D. Walaupun ada juga yang bilang saya cukup galak :P.

Sekarang saya di rumah saja. Di rumah orang tua saya lebih tepatnya. Banyak anak yang main-main di sekitar rumah. Masalahnya semua anak kecil baik yang masih bayi sampai yang balita, takut sama saya. Jika orang lain bilang “cilukba” membuat balita-balita itu ketawa, kalo saya yang bilang gitu justru membuat mereka menangis. Saya sendiri heran, kenapa anak-anak takut sama saya? Apakah wajah saya begitu menyeramkan di mata anak-anak?

Ok, mau nyobain bikin polling asal-asalan dari pemirsa.

***

Catatan:

Ini adalah sebuah posting iseng, tiba-tiba inget ga pernah narsis di blog sendiri. Kenapa ya saya ga bisa narsis? Padahal mumpung masih muda, masih cantik , Daripada ntar :P. Bentar lagi menua, mungkin udah ga menarik lagi.

Advertisements

Maaf, Email Saya di Rumah

14 Dec

Ini tentang aktivitas jadi operator warnet. Dari dulu, pasti kalau saya cerita tentang kerjaan itu selalu saja keluh kesah. Seolah saya begitu terpaksa melakukan pekerjaan itu. Hampir dua tahun saya menjalaninya, sepertinya tidak benar jika saya melakukan kerjaan itu sepenuhnya dengan terpaksa. Ok, hari ini saya tak ingin berkeluh kesah lagi. Karena mood saya lagi baik dan demi mempertahankan mood yang baik itu saya ingin berbagi tawa. Lagi-lagi tentang cerita konyol.

Saya lupa kejadiannya kapan, pokoknya sudah lama. Seorang Bapak setengah baya datang, penampilannya rapi, bersepatu dan baju masuk.

“Mbak, di sini bisa mengirim foto?” tanyanya.

“Bisa, Pak,” jawab saya pendek.

“Tolong kirimkan foto-foto ini ke sini ya Mbak,” katanya sambil menyodorkan beberapa lembar foto dan menunjukkan alamat email dari HP nya. Saya menerima lembaran foto itu dan memasukkannya dalam scanner.

“Silahkan masuk ke email Bapak,” saya memberikan keyboard dan membalikkan monitor ke arahnya. Bapak itu nampak bingung.

“Bapak punya email kan?” tanya saya.

“Iya Mbak, saya punya email tapi email saya di rumah,”

Gubrakkkkk!!!!!!! ???????????????

Andai saja saya tak berhasil menahan tawa, mungkin Bapak tadi merasa malu dan mencari-cari apa yang salah dari ucapannya.

Cerita serupa, Ibu-ibu dengan dandanan menor masuk dan berkata, “Mbak saya mau pake internet, tapi tolong saya dikasih tahu cara makainya, saya ga pernah pakai internet di warnet biasanya saya di rumah,

“Iya Bu, silahkan masuk di nomor 3,” jawab saya. Lalu saya log in kan langsung dari billing dan mengirimkan pesan “Silahkan dipakai Bu,”

Agak lama, Ibu itu keluar. “Mbak, saya itu ga pernah pakai internet di warnet, biasanya saya pakai di rumah, tolong sini,” katanya.

Seraya berjalan, saya berpikir, apa yang berbeda antara internet di sini dengan internet yang di rumah Ibu itu? Barangkali bentuk komputernya berbeda atau shortcut yang ada di dekstop berbeda sehingga Ibu itu bingung. Lalu saya bukakan browser mozilla untuk Ibu itu. “Silahkan Bu,” kata saya.

Mbak saya itu mau browsing, tapi saya ga bisa pake warnet biasanya saya pake di rumah,” katanya lagi. Kali ini saya benar-benar bingung. Apa yang Ibu itu tidak bisa kalau Ibu itu biasa pakai internet di rumah.

?????????

Sebuah Ikatan Maya, Bisakah?

26 Dec

Hujan lagi, Seperti biasanya. Semarang terguyur hujan jam segini. Jam-jam ketika saya pulang kerja. Biasanya saya akan mengeluh, merutuk-rutuk karena pulang kemalaman. Ya, salah saya juga sudah tahu kebiasaan hujan kenapa tidak pernah bawa payung? 😀 . Mungkin ini kebiasaan, saya suka ketika hujan menahan saya. Diam-diam saya bersyukur, karena saya punya alasan untuk tetap di sini melanjutkan YM-an dengan seorang teman. (Dasar tidak disiplin!)

Ah, tapi malam ini hujan masih turun seperti biasanya. Saya tak mengeluh juga tak bersyukur. Tak mengeluh karena saya memang tidak ingin segera pulang. Tidak bersyukur karena tidak ada teman saya yang biasanya menemani YM-an. Banyak sih teman yang lain, tapi saya tidak biasanya YM-an dengan banyak orang kecuali dia (jangan GR ya?!) 😀

Teman? Seperti apa saya memaknai arti seorang teman? Memaknai kehadiran orang lain di sekitar saya?

Bingung mengartikannya. Kecuali dengan kalimat seseorang, Teman itu datang bersama alam. Kita tidak bisa memanggilnya atau menolak kehadirannya. Tak terduga. Teman adalah orang yang bisa menunjukkan jalan yang baik dan menemani kita di jalan itu, menuju tempat yang lebih baik. Katanya melengkapi definisi teman padaku.

Banyak orang di sekitar saya. Hampir setiap hari, ratusan wajah saya sapa.

Mulai ketika bangun tidur, keluar dari kamar berpapasan dengan orang-orang sekosan. Orang-orang yang bisa melihat diri saya yang sangat jujur, wajah asam bau bantal dan rambut kusut acak-acakan. Tidak ada yang lebih jujur dari wajah kita kecuali ketika bangun tidur, asli tanpa make up. Apakah mereka teman saya? Saya hidup seatap dengan 12 orang di rumah kos yang kecil, selama kurang lebih 2,5 tahun. Saling mengenal? Iya, mungkin sekedar wajah dan nama panggilan. Selebihnya? Saya tak yakin mereka semua tahu nama lengkap saya. Begitupun saya, tak semua nama lengkap mereka saya hafal. Tak banyak percakapan antara saya dengan mereka. Karena seringkali saya keluar sebelum mereka keluar dari kamar, dan saya pulang ketika malam hari lalu masuk kamar.

Hanya satu orang yang sangat unik, dialah yang kadang-kadang agak perhatian dengan saya. Contohnya seminggu yang lalu, ketika saya sering berdiam diri di (kamar) kosan. Dari kamar sebelah, dia SMS:

“Mbak mau tanya soal matematika, gini: Seandainya kamu adalah sopir bis Ngaliyan-Terboyo, dari Ngaliyan ada 5 orang penumpang, di depan kampus turun 1 orang, di lampu merah Krapyak naik 10 orang, terus sampai di Kalibanteng naik lagi 5 orang, sampai di pasar Karangayu turun 3 orang. Kemudian tidak ada lagi penumpang yang naik turun, kecuali di rel Kaligawe turun 7 orang. Setelah sampai di terminal terboyo, berapa umur sopir bis tersebut? Btw, masih ngapain mbak? Ga keluar-keluar?”

Spontan saya ngakak sendiri, lalu saya balas, “Kurang kerjaan ya? Lagi main sudoku nih 🙂 ” tahu-tahu dia sudah berdiri di balik tirai kamar saya dan tertawa-tawa. Dia masuk dan kami bercanda-canda sejenak. Saya memang tidak pernah bisa memulai percakapan dengan orang lain, tetapi setelah percakapan itu dimulai seperti tidak ada habisnya.

Seperti itu hubungan saya dengan orang-orang seatap. Saya jarang menamai tempat tinggal saya itu rumah, walaupun saya sering bilang pulang untuk menuju ke sana. Dan entah, saya juga tak biasa menamai orang-orang yang tinggal di sana sebagai keluarga. Untuk menamai teman saja, saya masih berpikir, apakah keberadaan mereka menemani saya?

Mungkin, keberadaan mereka baru terasa setelah mereka semua pergi. Seperti sekarang ini. Liburan, mereka semua pulang menuju rumah orang tua masing-masing. Sudah kebiasaan saya jadi penghuni tunggal. Kamar-kamar sepi. Ruang tengah, di mana mereka sering berkumpul dan nonton TV, legang. Ruang tamu yang biasanya riuh dengan teman-teman mereka yang bertandang, kosong. Apalagi kolong, semuanya senyap. Saya jadi sadar, itu karena tidak ada mereka. Dan saya jadi tak berteman kecuali kesepian.

Tetapi, banyak orang di sekitar saya. Hampir setiap hari, ratusan wajah saya sapa.

Di kampus, sudah lima semester saya jalani. Banyak muka saya kenali. Dari berbagai jurusan dan angkatan, karena saya sering ikut kuliah MKU lintas jurusan. Setiap hari, mungkin ada puluhan jabat tangan saya pada mereka. Apakah mereka teman saya? mungkin iya, mungkin tidak. Tak ada hubungan apa-apa di antara saya dan mereka. Saya duduk, mereka duduk, meskipun bersebelahan tak pernah ada yang keluar kecuali senyuman dan basa-basi kecil, juga pertanyaan-pertanyaan pendek dengan jawaban pendek.

Di perpustakaan, biasanya saya bertemu dengan banyak orang. Wajah-wajah yang biasa saya temui di balik rak-rak buku yang berderet-deret. Saling berbisik, dan bersapa “Hai”, gitu aja. Selebihnya?

Di Campusnet, tempat aktivitas saya setahun ini, selain kuliah, tak banyak yang saya rasakan tentang sebuah hubungan bernama teman. Ah, tak terasa ternyata sudah hampir satu tahun saya duduk di sini, atas nama bekerja (tapi saya suka menyebutnya belajar hidup 😀 ) . Ada tujuh orang rekan seprofesi di sini, dengan seorang supervisor. Hubungan dengan mereka, mungkin sekedar hubungan profesional. Tak ada curhat pribadi kecuali bersinggungan dengan urusan kerjaan. Sehari di sini, ratusan senyum saya berikan pada ratusan wajah. Sedikit di antara mereka yang saya kenali.

Duduk di depan halaman maya, halaman sangat luas, yang mampu menembus jarak dalam waktu sepersekian detik saja. Menambah sulit untuk membilang orang yang ada di sekitar saya.

Justru di halaman maya ini, saya menemukan seorang teman. Saya bercerita apa saja padanya dan dia pun begitu. Menjadi sangat dekat padahal belum pernah bertemu.

Ah, kenapa jadi curhat sepanjang ini? Hujan mulai reda dan saya harus pulang. 😀

________________

Biasanya saya privat curhatan kayak gini, tapi entah kenapa saya mempublish curhatan ga penting seperti ini. Bukannya semua postinganmu curhatan ga mutu semua :mrgreen:

Kepompong

19 Oct

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang

reff:
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah

Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
na na na na na na na na na

Semua yang berlalu
Biarkanlah berlalu
Seperti hangatnya mentari

Siang berganti malam
Sembunyikan sinarnya
Hingga ia bersinar lagi

Dulu kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang

Sindentosca – Kepompong

Gara-gara beberapa hari kerja tapi ga ada kerjaan, sambil bengong saya menyimak lagu yang diputar dari music streaming produknya Campus Net. Pernah dengar lirik lagu itu?. Yang belum silahkan klik ini saja. Ternyata bagus juga. Metaforanya dalam. Bagaimana menurut anda?.

%d bloggers like this: