Archive | Uncategorized RSS feed for this section

Salah Cetak dalam Buku Matematika

4 Feb

Tadi pagi ketika sedang menemani Ghautsina tidur, ada telepon dari seorang Ibu Guru SD.

“Bu, maaf mau nanya. Sederhana sih, tapi bikin saya bingung,” prolognya. Saya menunggu kalimat selanjutnya sambil menerka-nerka, hendak bertanya apakah gerangan si Ibu Guru ini.

“Bilangan seratus itu puluhan dan satuannya berapa?” tanyanya.

“Seratus itu ratusannya satu, puluhannya nol dan satuannya nol,” jawab saya.

“Iya, menurut saya juga begitu. Cuma dikunci jawaban tertulis puluhannya sepuluh dan satuannya nol. Saya jadi bingung.” Timpal si Ibu Guru, kemudian menutup percakapan.

Ok, the case is finished. Tetapi, ada hal lain mengganggu pikiran saya. Jadi Ibu Guru yang menelepon saya tadi kebingungan karena kesalahan tulis dalam sebuah kunci jawaban (entah di buku atau LKS). Dulu saya begitu mudah menjustifikasi bahwa kesalahan dalam buku (terutama matematika) adalah kesalahan penulisnya yang tidak termaafkan. Kesalahan-kesalahan kecil, membuat dosa besar. Membingungkan siswa yang sedang belajar mandiri. Menjadikan soal-soal tidak berpenyelesaian. Bahkan, yang sudah menjadi rahasia umum, bagi guru yang malas mengerjakan soal dan hanya mengandalkan kunci jawaban, terkadang dengan mudah menyalahkan jawaban siswa karena tidak sesuai dengan kunci jawaban yang padahal salah cetak.

Tetapi, setelah beberapa tahun terakhir ini saya menulis buku (pelajaran matematika), saya menjadi tahu, bahwa kesalahan itu teramat manusiawi. Kesalahan itu memohon pemaklumannya sendiri karena sang penulis tidak sempat meminta maaf menemui pembacanya satu per satu. Setiap kali saya menerima kiriman buku dari penerbit, saya menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku saya sendiri. Mencari-cari kesalahan yang luput dari proses editing. 

Mengutip pernyataan seorang editor yang pernah saya baca di statusnya “Typo adalah hal yang menandakan bahwa editor juga manusia”. Salah ketik, salah cetak atau biasa dikenal dengan istilah typo (Typographical error) adalah hal yang sangat manusiawi. Tetapi, bukan berarti seorang penulis (terutama buku matematika) bisa santai saja dengan typo yang ada di bukunya. Beberapa kali saya mendapatkan message di FB, tentang kekeliruan dalam buku yang saya tulis. Biasanya saya langsung membuka buku cetak dan melihat file asli yang saya ketik. Ada yang memang kesalahan saya, ada juga kadang-kadang kesalahan dalam proses setting layout di penerbit.

Belajar dari satu dua buku yang jauh dari kata sempurna, sekarang saya menjadi lebih berhati-hati. Editing saya lakukan berkali-kali. Ketika naskah selesai diketik, sebelum saya kirim ke penerbit saya pastikan bahwa saya sudah meneliti semuanya. Ketika selesai dari tangan editor dan udah dilayout menjadi bentuk buku, saya selalu meminta untuk melihat dulu sebelum akhirnya naik cetak. Saya harus membaca lebih teliti. Hasil setting layout kadang-kadang mengobrak-abrik notasi-notasi matematika. Misalnya 10^2 menjadi 102, tentu saja ini adalah kesalahan fatal. Mengubah posisi gambar, tentu saja merupakan kesalahan yang tidak bisa dianggap sepele. Kadang-kadang sebagian penjelasan hilang. Jadi Salah cetak dalam sebuah buku (matematika) itu adalah sebuah keniscayaan yang hanya bisa diminimalkan menjadi tiada.

Tulisan ini, untuk semua pembaca buku saya. Adik-adik yang sedang belajar matematika. Bapak Ibu guru yang berkenan memakai buku yang saya tulis. Banyak kesalahan di dalamnya. Jauh dari kata sempurna. Saya sedang dan terus belajar menulis lebih baik lagi. Mengurangi kemungkinan-kemungkinan typo yang manusiawi.

Advertisements

Di Balik Suami Hebat, Ada Istri yang Hebat

25 Jan

Tanpa survey, saya berani memastikan banyak istri menyetujuinya. Tanpa berpikir panjang, seolah-olah kalimat tersebut mengangkat kedudukan istri setingkat lebih hebat di atas suami. Bahwa suami bisa menjadi hebat, karena seorang istri yang hebat. Fakta-fakta populer yang sahih seringkali menjadi contoh untuk menguatkan kebenaran kalimat tersebut.

Tengoklah Rasulullah SAW dalam dakwahnya yang hebat, ada Siti Khadijah yang solihah mendampinginya. Atau tidak perlu jauh-jauh, bersama Bung Karno ada Ibu Inggit Garnasih yang mengorbankan dirinya demi perjuangan sang suami. Tapi tunggu sebentar apakah tanpa Siti Khadijah Rasulullah tidak bisa menjadi hebat? Atau tanpa Ibu Inggit disampingnya Bung Karno tidak pernah berjuang?

Ada semacam makna ganda dalam kalimat “ Di balik suami hebat, ada istri yang hebat”. Pertama, kalimat tersebut bermakna seolah-olah yang menjadikan suami hebat adalah istri yang hebat. Artinya ada suami biasa-biasa saja, tapi menjadi hebat karena motivasi dan jasa istrinya. Jadi seandainya sang suami tidak berpasangan dengan istrinya yang hebat, bisa jadi dia bukan apa-apa. Tapi menurut saya fakta begini pasti sedikit ditemukan. Nyatanya kebanyakan orang itu, susah disulap menjadi hebat tanpa bakat hebat dari dirinya sendiri.

Kedua, kalimat tersebut bisa jadi muncul karena suami hebat berpasangan dengan istri yang hebat. Sebagaimana konsep kufu yang dianjurkan dalam perjodohan. Juga merupakan janji Allah, bahwa orang baik akan berjodoh dengan orang baik. Dalam pemaknaan ini, artinya kehebatan suami dan kehebatan istri adalah sebuah kesejajaran. Ada semacam saling mengisi dan melengkapi. Sehingga kesuksesan suami, adalah kesuksesan istri. Bersama-sama, karena mereka melangkah beriringan.

Ketiga, dan saya yakin ini fakta kebanyakan. Bahwa suami hebat selalu berhasil membuat istrinya tampak benar-benar hebat. Meskipun seorang istri tanpa prestasi sekalipun akan tampil memukau di samping seorang suami yang hebat. Mau tahu kenapa? Setidaknya, dia sangat hebat telah merenggut hati sang suami ke dalam hatinya atas nama cinta.

Nah jadi?

Saya tidak tahu yang manakah saya. Ketika saya memutuskan menikah dengan suami saya, dia tidak pernah bercerita tentang prestasinya segamblang-gamblangnya. Sampai saya tahu bahwa dia sangat terkenal di SMA nya dari banyak orang. Sangat terkenal di kotanya dari tetangga-tetangganya di FB. Saya tahu dia pernah ke Iran mewakili Indonesia dalam rangka olimpiade matematika untuk mahasiswa tingkat internasional, justru dari Google. Saya tahu dia adalah satu-satunya mahasiswa yang lulus cumlaude dengan IPK 4 sepanjang sejarah di jurusannya, bukan dari dia, dari orang lain.

Tentu saja kehebatannya, bukan karena saya. Sejatinya suami saya ditakdirkan menjadi orang hebat yang mendampingi saya. Apakah saya sama hebatnya sehingga layak bersanding dengannya? Barangkali iya, barangkali saya adalah istri kategori nomor 3. Yang tampak benar-benar hebat karena telah membuat dia jatuh cinta dan mempersunting saya menjadi bidadari di sampingnya.

[Buku Baru] Lulus Ujian dengan TPA Matematika

25 Sep

Judul: Lulus Ujian dengan TPA Matematika
Penulis: Al Jupri & Rohma Mauhibah
Jumlah Halamanan: 128 hlm
Ukuran: 19 x 26 cm
Harga: Rp35.000
ISBN: 979-780-594-8

Pelajari triknya, selesaikan dengan tepat ujiannya!

TPA Matematika sering kali dianggap tes paling sulit oleh peserta ujian. Padahal, TPA telah menjadi salah satu jenis tes terpenting ketika seorang calon mahasiswa hendak masuk universitas negeri atau bagi calon karyawan yang hendak memasuki dunia kerja.

Buku Lulus Ujian dengan TPA MATEMATIKA akan membantu Anda berlatih trik mengerjakan soal dan memahami jawaban dengan cepat. Soal-soalnya diambil dari bentuk-bentuk soal yang sering diujikan dalam TPA sehingga Anda akan terbiasa.

Di setiap bab, akan ada KERTAS UJI yang berisi soal-soal yang biasa keluar saat ujian,  dilengkapi dengan KERTAS JAWABAN yang berisi pembahasan untuk setiap soal.

Selain itu, di bagian akhir buku ini, dilengkapi satu set prediksi TPA Matematika beserta kunci jawabannya. Prediksi ini akan membantu Anda mengetahui kemampuan yang sudah Anda latih.

Jadi, apa pun ujiannya, lulus pasti hasilnya!

Saya, Tentang Kerinduan dan “Sebelas Patriot”

23 Jul

Bagi yang menginginkan sinopsis Sebelas Patriot, novel terbarunya Andrea Hirata itu, saya beritahukan sebelumnya bahwa tulisan ini bukanlah yang anda maksud. Jadi jangan salahkan saya, kalau tulisan saya ini 100% berisi curhat tentang saya. Ok? 😀

Menemukan “Sebelas Patriot” tadi malam adalah kejutan bagi saya. Karena tadinya saya tidak berencana ke toko buku. Hanya sekedar jalan-jalan sore menemani Bu Lik dan anaknya yang sedang berbelanja untuk keperluan lebaran di Citraland. Tapi melihat Bu Lik saya dan anaknya yang 9 tahun, asyik memilih baju, entah kenapa perasaan saya tak karuan. Seperti cemburu, tapi saya tahu perasaan itu lebih tepat dikatakan iri. Apalagi melewati stand perlengkapan baby dan pakaian anak-anak, selalu sukses membuat perasaan saya tak karuan. Seketika melemparkan saya pada mimpi-mimpi dan seketika itu pula membuat saya sadar akan kenyataan. Ternyata begitu pahit dan sakit. Sebelum mata saya terlihat sangat basah karena air mata saya merembes, saya berpamitan ke Bu Lik untuk ke Gunung Agung saja.

Pikir saya, di Gunung Agung akan lebih nyaman. Menyelamatkan saya dari pemandangan yang menganduk-aduk hati saya, yaitu display-display baju anak-anak perempuan yang cantik-cantik. Tapi ternyata tidak sepenuhnya. Tiba-tiba saya menyadari, bahwa diri saya sudah tidak seperti beberapa tahun lalu. Bukan, bukan karena saya tiba-tiba tidak suka ke toko buku. Atau saya tiba-tiba tidak merasa lagi butuh dengan buku sehingga malas ke toko buku. Tetapi rasanya, kesenyapan yang sangat tiba-tiba menyergap di tengah hiruk-pikuk yang gemerlap. Padahal dulu saya biasa dengan keadaan seperti ini dan tidak pernah merasa sepi meskipun berjalan sendiri. Apalagi jalan-jalan ke toko buku, pasti saya lebih memilih sendiri.

Ketidakhadiran suami saya di sini, membuat saya seperti memakai kaos kaki sebelah saja. Atau memakai celana yang kebesaran tanpa ikat pinggang. Bahkan lebih dari itu, rasanya saya cuma bernapas dengan satu lubang hidung. Lebay ya? biarin :p. Sama tak nyamannya ketika di Robinson tadi. Saya sama sekali tak bergairah melihat-lihat buku. Apalagi setelah memastikan bahwa buku “Rangkuman Matematika SMA” yang kami susun, belum ada di sini. Hanya berjalan, berkeliling-keliling hingga tak sadar entah sudah berapa kali saya berputar di situ-situ saja. Saya tak melihat apa-apa, karena pikiran saya terlalu penuh dengan kerinduan. Berkali-kali saya merefresh halaman FB dari HP butut saya, tak ada inbox dari suami saya. Kami memang memanfaatkan fasilitas FB dalam berkomunikasi. Lebih hemat dibanding sms yang seharga 1/16 kg telur (alias sebutir :D). Sayangkan daripada sms, mending dibuat belanja.

Tiba-tiba tangan saya menyentuh satu buku di deretan buku-buku terbaru. Sebelas Patriot. Teringat sebulan lalu kami pernah mencarinya di Gramedia tapi belum ada. Yang akhirnya membuat suami saya tidak menikmati jalan-jalan selanjutnya karena kecewa. Saya membeli novel ini untuknya. Mungkin akan mengirimkannya ke Belanda atau menyimpannya untuk dia baca ketika pulang (yang mungkin) setahun lagi. Baiklah, saya akan sabar menunggu waktu itu. Sepertinya perasaan saya yang mulai sabar dengan kesenyapan yang tadi menyiksa. Perlahan-lahan pikiran saya mulai utuh.

***

Continue reading

Apa Kabar Sayang?

8 Feb

Seperti malam-malam kemarin sayang, aku susah tidur malam ini. Mungkin karena seharian kita sama sekali belum chat. Biasanya meski hanya satu jam, pasti ada waktu yang terluang untuk itu. Tapi sehari ini, ah, rasanya hari ini lebih panjang berlalu. Juga malam ini, rasanya lebih panjang dari biasanya. Terlebih lagi, rasa panas yang membakar tubuhku. Bukan, bukan karena aku sakit. Aku baik-baik saja, suhu tubuhku normal. Barangkali karena kehamilanku mulai memasuki trimester ketiga, jadi meskipun udara di luar dingin tetap saja aku kepanasan. Berkali-kali aku mengganti baju karena sebentar-sebentar saja, bajuku basah oleh keringat.

Ah, kenapa aku jadi berkesah sendiri. Bukankah mungkin hari ini sangat berat kau lalui. Barangkali kau juga mulai bosan karena tiap hari harus menyiapkan makananmu sendiri. Mulai berpikir mencuci bajumu sendiri, karena sebentar lagi baju-bajumu mulai kotor semua. Padahal kau harus tetap belajar. Dan kau tak pernah mengeluh padaku, walaupun sebenarnya sejak berangkat sembilan hari yang lalu kau mulai batuk-batuk, yang artinya kau sakit. Tapi kau tak pernah bercerita tentang keberatanmu di sana. Karena kau tak ingin membuatku khawatir dengan keadaanmu kan?

Terima kasih untuk hari ini sayang, meskipun kita tak sempat chat tapi hari ini kau begitu romantis. Aku rasa kau sudah tahu konsep romantis yang sangat sederhana bagiku. Tak perlu kau bawa setangkai bunga mawar atau sebuah hadiah-hadiah. Apalagi acara makan di tempat syahdu di bawah purnama yang dikelilingi lilin-lilin. Tidak. Cukup bagiku, romantis itu saat kau luangkan waktumu di tengah sibukmu untuk menyapaku. Itu yang ku ingini setiap hari, dan hari ini kau mulai mengerti. Terima kasih sayang. Betapa aku sangat bahagia merasa kau rindukan. Merasa memiliki jedamu, menyita sibukmu sejenak.

Di sini malam hendak berlalu, dan aku menunggu senjamu di sana. Apa kabarmu hari ini sayang?

Mengakrabi Sepi, Berteman Kerinduan

4 Feb

Apa kabar? Saat saya bertanya seperti itu padamu, sungguh itu bukan basa-basi. Bukan jawaban sependek kata baik-baik saja yang saya ingini. Tapi sebenar-benarnya jawaban. Sejelas-jelasnya keadaan. Sedetil-detilnya kejadian yang sedang terjadi di sana. Hingga biarlah nanti saya simpulkan sendiri, apakah benar kabarmu baik-baik saja. Maka jawablah pertanyaanku sekarang, apa kabar Sayang?

Saya sepenuhnya tahu, Kau tak ingin membuat saya khawatir. Dengan bercerita tentang musim dingin yang tak bersahabat di sana. Tentang banyak sekali urusan yang harus kau selesaikan sendiri. Mulai dari urusan makan, yang selama ini kau selalu ingin tak mau tahu bagaimana saya kebingungan memilih seleramu. Urusan keimigrasian yang pastinya membuatmu cape dan mungkin kesal. Sebagaimana saya mengenalmu, kau tak pernah suka berurusan dengan hal-hal administratif. Sampai tugas-tugas yang harus kau selesaikan. Semuanya sendiri, dengan waktu sehari yang terbatas. Saya tahu, dan bisa membayangkan semua itu.

Sehingga saya merasa tak berhak meminta waktumu sesering mungkin, untuk sekedar bertanya kembali, bagaimana dengan kabarku? Saya mulai mengakrabi sepi di sini, berteman dengan kerinduan. Biarlah waktu tidur yang saya miliki tak sempurna. Karena sebentar-sebentar terbangun karena menginginkan waktu luangmu. Menginginkan sapaanmu. Merinduimu.

Saya Bisa Menulis

21 Feb

Saya kira menyelesaikan skripsi akan mudah. Kenyataannya, memang tidak sulit tetapi kenapa tak kunjung selesai. Entah lah, saya hanya sedang ingin menulis apa saja sekarang. Ingin bercerita tepatnya barangkali.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan tidak begitu baik sesaat sebelum adzan subuh. Entahlah, Saya rasa tidak ada yang salah dengan tidur saya. Selepas mandi juga bukan kesegaran yang saya rasakan tapi kedinginan. Lalu saya paksa membaca dengan memeluk guling dan berselimut. Membaca tulisan sendiri yang akan saya konsultasikan kepada pembimbing nanti jam tujuh. Hey, ini minggu tidak salah mau bimbingan hari ini? Iya tidak salah, saya tahu ini hari minggu dan dosen pembimbing saya juga tahu ini hari minggu. Alamak, saya tertidur lagi sampai pukul 06.30.

Bergegas merapikan diri dan melesat dengan langkah terburu-buru ke kampus. Ramai sekali ternyata kampus minggu-minggu begini. Ibu-ibu  dan Bapak-bapak setengah baya berlari-lari ke ruang kelas. Ternyata sedang ada ujian akhir semester bagi mahasiswa program peningkatan kualifikasi S1 Depag. Saya mengikuti mereka dan berhenti di depan kelas. Mencari-cari papan informasi, mencari jadwal ujian untuk mencari dosen saya berada di mana. Sepertinya saya berada di depan kelas yang benar. Tetapi kenapa bukan dosen yang saya cari yang ada di dalam sana. Saya putuskan menunggu, kemudian saya duduk di depan kelas itu.

Segerombolan Ibu-ibu tersenyum kepada saya dengan langkah tergopoh-gopoh, tangannya menyalami saya dan mengatakan “Mari Bu, maaf saya terlambat.” Saya membalas senyum mereka dan mengulurkan tangan, selebihnya saya terbengong-bengong. Duh, apakah wajah saya sudah tua sehingga mereka memanggil saya “Bu”. Atau mereka mengira saya dosen?

Seseorang menghampiri saya, “Kenapa ga masuk mbak? terlambat ya? siapa pengawasnya?” tanyanya, bukan dosen melainkan pegawai TU.

“Saya sedang menunggu Bu Kasih,” jawab saya.

“Sudah membuat janji?” tanyanya lagi.

“Sudah,” jawab saya pendek.

“Ada keperluan apa?” tanyanya lagi.

“Bimbingan skripsi,” Lalu orang itu pergi.

Saya mengamati ke dalam ruang kelas. Hening. Tiba-tiba saya merasakan suasana ujian itu, ikut terhanyut di dalamnya.  Seorang Ibu yang duduk di bangku nomor dua menoleh ke belakangnya, meminta jawaban. Seorang yang duduk di belakangnya adalah Bapak-bapak yang membuka buku catatan. Hmm… rasanya memang tidak lengkap ujian tanpa ada yang contek-contekan. Saya pernah bilang pada seorang teman yang selalu membuat contekan ketika mau ujian, “Untung kamu tidak kuliah di kedokteran,”

“Maksudmu?” tanyanya.

“Bayangkan saja seandainya dokter biasa menyontek saat ujian, saat ada pasien yang harus segera ditangani dia harus buka-buka buku dulu, keburu sekarat,” lanjut saya. Teman saya hanya nyengir.

Ah, untungnya juga yang ada di ruangan itu bukan mahasiswa kedokteran. Halah, jurusan apapun juga yang namanya menyontek memang ga banget. Asal tahu saja, yang ada di ruangan itu semuanya adalah guru-guru yang  sudah mengajar bertahun-tahun. Kalau guru kencing berdiri murid kencing berlari, begitu kata pepatah. Nah, sekarang kalau guru-gurunya nyontek bagaimana dengan muridnya?

Setelah lebih dari tiga puluh menit menunggu, Bu Kasih, dosen yang saya tunggu datang juga. “Tunggu dulu ya mbak, saya mau lihat ujian dulu,” katanya. Saya hanya mengangguk sembari tersenyum. Saya mengikuti Bu Kasih masuk ke ruangan dengan mata saya. Terlihat Bapak-bapak dan Ibu-ibu menyembunyikan ketakutan.

Ya, siapa yang tidak kenal dengan Bu Kasih. Semua mahasiswa yang pernah mengontrak mata kuliahnya pasti tahu beliau terkenal disiplin dan galak. Saya bertemu dengan beliau di kelas dulu saat  semester satu. Jangan memakai kaos, karena beliau tidak menerima kaos masuk kelas. Jangan memakai celana bagi perempuan, karena beliau tidak suka perempuan tomboy. Jangan memakai jaket sampai di kelas, karena dikira masih bangun tidur. Dan yang terakhir, jangan coba-coba menyontek di ujian kecuali berharap semester depan harus bertemu dengan beliau lagi.

Akhirnya beliau keluar dan menemui saya. Meminta kerjaan saya. Melihat sekilas dan tanya ini-itu. Kemudian katanya, “Kamu sadar ga kalau kalimat kamu itu tidak jelas maksudnya? Mana pokok pikiran, mana kutipan dan mana kesimpulan? Anak TK juga bisa kalau begini,” Saya tak menjawab. Benarkah saya tidak bisa menulis? Seburuk itukah tulisan saya hingga pantas disetarakan kerjaan anak TK?

Bimbingan selesai, pulang ke kosan dan berganti seragam. Kerja. Hey, semua kejadian itu terekam sempurna. Saya bisa menulis. Setidaknya menulis tentang kejadian yang saya alami pagi ini. Saya bisa menulis. Saya bisa!

Berbagi Diam

5 Apr

Silence is one great art of conversation ~ Anonymous

Aku tahu mungkin kau keberatan aku diam. Meski aku yakin, kau sepenuhnya tahu, diam bukanlah sinonim dari bisu. Aku sama sekali tak ingin mendiamkan mu pagi ini. Aku hanya tak bisa berbohong. Aku juga tak pintar menyembunyikan kabar yang tidak menyenangkan. Lalu aku memilih diam, menyepakati kutipan tak bertuan di atas.

Aku tahu, mungkin adalah permintaan paling rumit, jika aku memintamu untuk mengerti diamku. Aku tak memaksa dan tak melarang kau bertanya kenapa aku diam. Tapi maaf, aku tak bisa menjawabnya. Hanya diam.

Aku tak hendak membuatmu merasa bersalah. Sungguh, hanya tidak tega membagi wajah yang tertekuk dan senyum kusut, maksa.

Ya sudah, tolong biarkan aku diam. Bukankah kau mendengar apa yang aku katakan dalam hatiku?

Selamat Sore

28 Mar

Tak banyak sore yang mempertemukan kita sekarang

Tak banyak pula cerita yang kita bagi

Apa kabarmu di sana, Ta?

Barangkali sangat berlebihan kalau aku menebak kau sedang mengingatku sambil merebahkan lelahmu

Padahal, sangat mungkin kau belum beranjak dari barisan-barisan aksara yang tercetak rapi dalam buku-buku tebalmu

Atau pikiranmu masih tersita untuk memintal kata-kata

Uh, tahukah kamu?

Kadang-kadang aku mencemburui mereka

Betapa banyak huruf-huruf menyita tanganmu, menyita waktumu bahkan ruang dalam pikiranmu untuk sekedar mengingatku

Tapi kau begitu pandai melukis pelangi di hatiku

Hingga aku sama sekali tak keberatan tentang apa saja yang kau lakukan saaat ini

Bukankah hatimu aku?

Apakah kau mengiyakannya, Ta?

Aku tahu ini berlebihan

Tapi aku tak menemukan kalimat selain itu

Selamat sore, Ta

Sekedar sapaan menjelang senja, untukmu yang memanggilku Cinta

Seorang Adik Kecil

6 Dec

Malam selepas isya’, tidak ada pekerjaan yang wajib saya selesaikan. Saya sedang mengerjakan latihan soal-soal matematika SMA bab barisan dan deret ketika HP saya berbunyi.

Seorang teman. Seorang teman yang sebenarnya istimewa. Istimewa, karena dia adalah satu-satunya teman yang belum pernah saya jumpai. Lho kok? itulah, pertemanan yang unik. Semakin hari semakin dekat tapi belum pernah bertemu. Seperti asimtot saja. Ups! Tidak, kenapa yang keluar adalah suara  seorang gadis kecil. Belum selesai keterkejutan saya, si empunya suara memperkenalkan diri,

“Teh ini Alfi,” katanya.

“Ooo Alfi, apa kabar fi?” Jawabku tergeragap. Iya, temanku itu sering cerita mempunyai adik bungsu bernama Alfi.

“Alhamdulillah Teh, Alfi baik-baik aja, teteh gimana?” jawaban yang teratur dan membuat saya kembali tergeragap.

“Eh, Mmm … Teteh juga baik-baik aja, Oiya Alfi kelas berapa sekarang?” tanyaku lagi

“Alfi kelas 1 MTs,” Jawabnya pendek.

“Ooo … Emang Alfi tahu ngobrol sama siapa?” Tanyaku akhirnya. Baru sadar dan merasa ganjil. Ini kali pertama saya ngobrol sama Alfi, dan saya belum memperkenalkan diri.

“Alfi tahu kok, Teteh namanya Teh Rahma kan? Temannya kakak saya,” jawabnya tidak bersalah.

“Kakak Alfi udah cerita apa aja?”

“Banyak, tentang Teteh, nama  Teteh, rumah Teteh, Kuliah Teteh, dll.”

Gubrakk!! Saya hanya tidak habis pikir, kenapa teman saya bercerita kepada adik kecilnya tentang saya. Secara, siapa saya? Nah, Lho!

Sampai akhirnya saya kehabisan pertanyaan untuk terus mengajaknya ngobrol.

“Mmm… ada yang mau dibicarakan lagi Fi?” Tanyanku akhirnya.

“Udah engga ada,” Jawabnya polos.

“Ya udah dulu ya ngobrolnya, besok kita sambung lagi, Ok? Teteh mau belajar dulu.” Pamitku,

Akhirnya telepon ditutup. Sudah pukul sembilan, ketika saya mulai memeluk guling sambil membalik-balik halaman majalah Horison, HP saya berbunyi lagi. Teman saya lagi.

“Mmm… Alfi mau bicara lagi sama kamu, boleh ya? ga papa ya?”

“Oh, ga pa pa,”

Sepersekian menit, suara dari seberang berganti,

“Teh, ini Alfi lagi, mau ngobrol bentar aja. Boleh ya?”

“Iya boleh Fi, ada apa?”

“Teh, tolong dong buatin Alfi karangan. Apa aja, puisi juga boleh,” katanya

Mmm… Aku benar-benar terkejut mendengarnya.

“Karangan tentang apa Alfi? buat apa?” Jawaban saya, kali ini semakin terdengar kalau saya sedang terkejut.

“Tentang lingkungan hidup, Teh. Buat alfi baca-baca aja, mau kan Teh?” Katanya lagi.

“Iya, insya Allah Teteh buatin kalo punya waktu yaa…” Jawab saya akhirnya.

%d bloggers like this: