Tag Archives: marriage

Di Balik Suami Hebat, Ada Istri yang Hebat

25 Jan

Tanpa survey, saya berani memastikan banyak istri menyetujuinya. Tanpa berpikir panjang, seolah-olah kalimat tersebut mengangkat kedudukan istri setingkat lebih hebat di atas suami. Bahwa suami bisa menjadi hebat, karena seorang istri yang hebat. Fakta-fakta populer yang sahih seringkali menjadi contoh untuk menguatkan kebenaran kalimat tersebut.

Tengoklah Rasulullah SAW dalam dakwahnya yang hebat, ada Siti Khadijah yang solihah mendampinginya. Atau tidak perlu jauh-jauh, bersama Bung Karno ada Ibu Inggit Garnasih yang mengorbankan dirinya demi perjuangan sang suami. Tapi tunggu sebentar apakah tanpa Siti Khadijah Rasulullah tidak bisa menjadi hebat? Atau tanpa Ibu Inggit disampingnya Bung Karno tidak pernah berjuang?

Ada semacam makna ganda dalam kalimat “ Di balik suami hebat, ada istri yang hebat”. Pertama, kalimat tersebut bermakna seolah-olah yang menjadikan suami hebat adalah istri yang hebat. Artinya ada suami biasa-biasa saja, tapi menjadi hebat karena motivasi dan jasa istrinya. Jadi seandainya sang suami tidak berpasangan dengan istrinya yang hebat, bisa jadi dia bukan apa-apa. Tapi menurut saya fakta begini pasti sedikit ditemukan. Nyatanya kebanyakan orang itu, susah disulap menjadi hebat tanpa bakat hebat dari dirinya sendiri.

Kedua, kalimat tersebut bisa jadi muncul karena suami hebat berpasangan dengan istri yang hebat. Sebagaimana konsep kufu yang dianjurkan dalam perjodohan. Juga merupakan janji Allah, bahwa orang baik akan berjodoh dengan orang baik. Dalam pemaknaan ini, artinya kehebatan suami dan kehebatan istri adalah sebuah kesejajaran. Ada semacam saling mengisi dan melengkapi. Sehingga kesuksesan suami, adalah kesuksesan istri. Bersama-sama, karena mereka melangkah beriringan.

Ketiga, dan saya yakin ini fakta kebanyakan. Bahwa suami hebat selalu berhasil membuat istrinya tampak benar-benar hebat. Meskipun seorang istri tanpa prestasi sekalipun akan tampil memukau di samping seorang suami yang hebat. Mau tahu kenapa? Setidaknya, dia sangat hebat telah merenggut hati sang suami ke dalam hatinya atas nama cinta.

Nah jadi?

Saya tidak tahu yang manakah saya. Ketika saya memutuskan menikah dengan suami saya, dia tidak pernah bercerita tentang prestasinya segamblang-gamblangnya. Sampai saya tahu bahwa dia sangat terkenal di SMA nya dari banyak orang. Sangat terkenal di kotanya dari tetangga-tetangganya di FB. Saya tahu dia pernah ke Iran mewakili Indonesia dalam rangka olimpiade matematika untuk mahasiswa tingkat internasional, justru dari Google. Saya tahu dia adalah satu-satunya mahasiswa yang lulus cumlaude dengan IPK 4 sepanjang sejarah di jurusannya, bukan dari dia, dari orang lain.

Tentu saja kehebatannya, bukan karena saya. Sejatinya suami saya ditakdirkan menjadi orang hebat yang mendampingi saya. Apakah saya sama hebatnya sehingga layak bersanding dengannya? Barangkali iya, barangkali saya adalah istri kategori nomor 3. Yang tampak benar-benar hebat karena telah membuat dia jatuh cinta dan mempersunting saya menjadi bidadari di sampingnya.

Advertisements

Kisah Cinta di Balik Lahirnya “Ringkasan Lengkap Matematika SD”

1 Jun

Penulis:  Rohma Mauhibah, S.Pd. & Al Jupri, S.Pd., M.Sc.

Ukuran: 13 x 18 cm

Tebal: vi + 266 hlm

Penerbit: Indonesia Tera

ISBN: 979-775-160-0

Harga: Rp32.500,-

______________________________

Minggu-minggu akhir  Mei, saya sudah was-was. Tak kunjung ada kabar dari penerbit, kapan buku saya lahir. Ternyata, sore terakhir di bulan Mei sepulang dari sekolah, ada sms dari redaksi. Katanya royalti buku  yang berjudul “Ringkasan Lengkap Matematika SD” sudah ditransfer sejak 21 mei 2012. Senang? Tentu saja. Tetapi masih belum puas, karena belum menerima sendiri bukti fisik bukunya. Sepulang dari sekolah siang ini, mata saya menabrak sebuah paket di meja. Tanpa menebak apa isinya, saya langsung kegirangan dan berseru “Alhmadulillah”. Benar saja, itu adalah bukti terbit buku yang saya tunggu-tunggu.

Menunggu terbitnya sebuah buku ini, mirip menunggu kelahiran sang buah hati. Saya tidak menemukan analogi yang lebih tepat selain itu. Mirip apanya? Mirip waktu, proses dan perasaannya. Kok bisa? Butuh waktu 9 bulan untuk memproses buku tersebut. Di mana 9 bulan itu bisa dibagi menjadi 3 trimester. Aduh, ini mau bercerita tentang proses pembuatan buku atau proses kehamilan sih?  Mungkin keduanya.

Trimester Pertama

Bermula di bulan agustus 2011. Di tengah kegalauan yang luar biasa. Depresi pasca kehilangan sang buah hati, saya seperti kehilangan arah.

“Mama harus menulis agar kesedihan itu ga berlarut-larut,” hibur suami saya dari ujung benua lain.

Akhirnya, suami saya berhasil meyakinkan saya untuk menulis buku SD. Menulis sesuatu yang saya mampu. Menulis hal ringan agar tak terasa sebagai beban. Benar saja, saya begitu menikmati setiap tarian jemari. Naskah buku yang berisi 16 bab ini selesai dalam 30 hari. Saya memulainya 1 Ramadhan dan selesai di malam takbir.

Selanjutnya, saya berpusing-pusing ria membaca ulang naskah itu. Memperbaiki sana-sini. Karena saya menganut aliran “TUBE”. Yaitu Tulis semua, Baca ulang baru kemudian Edit. Setelah selesai, saya simpan saja di komputer. Sampai lupa bahwa saya sudah menyelesaikan sebuah naskah.

Trimester Kedua

Suami saya meyakinkan bahwa naskah yang sudah hampir 3 bulan ngendon di folder komputer ini segera dikirim ke penerbit. Saya selalu berkelit dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya saya terpaksa memberanikan diri mengirimkan naskah ini.

14 Desember 2011 saya mengirim email ke Indonesia Tera (kelompok penerbit Agromedia grup). yang dibalas oleh redakturnya 4 hari kemudian. Membaca email balasan itu saya langsung jingkrak-jingkrak. Aih, norak :D. Maklum, ini adalah kali pertama saya mengajukan ke penerbit dan di terima. Karena sebelumnya saya hanya join suami menulis.

Hampir tak percaya, saya telepon penerbitnya. Konfirmasi email yang saya terima, menanyakan sistem royalti dan surat perjanjian. Akhirnya deal, saya memilih sistem royalti bukan jual putus. Sebulan kemudian, surat perjanjian penerbitan saya terima.

Harusnya Trimester kedua ini saatnya Ibu hamil sedikit santai. Tapi bagi saya dalam memproses buku ini, trimester dua sangat sibuk. Edit sana-sini menambahkan materi yang diminta editor. Karena katanya, akan diterbitkan di bulan maret.

Ternyata, berdasakan rapat redaksi, buku ini diundur terbitnya. Menunggu momen yang tepat untuk lahir. Karena buku ini adalah buku pelajaran,  maka waktu paling tepat adalah tahun ajaran baru.

Trimester Ketiga

Nah, nah memasuki trimester ini siapapun ibu hamil mulai ga sabar menunggu kelahiran sang buah hati. Begitu juga saya. Sangat tidak sabar menunggu mei. Menghitung setiap detiknya. Merasakan setiap penandanya.

Meskipun buku ini matematika, namun bagi saya buku ini adalah cerita cinta. Kebangkitan saya dari keterpurukan. Hadiah ulang tahun untuk buah hati kami di surga. Sebuah buah cinta di tahun ke dua pernikahan kami. Karena sejatinya kami menikah tidak cuma urusan hati, apalagi cuma tubuh. Kami menikah penuh, dengan seluruh pikiran.

Ok, akhirnya panjang lebar, ujung-ujungnya promonya ya ……… Segera dapatkan di toko buku terdekat. Cocok untuk hadiah anak-anak, adik-adik atau tetangga-tetangga. 🙂

Nantikan buku-buku duet kami yang akan segera menyusul yaaaa!!

%d bloggers like this: