Tag Archives: Typo

Salah Cetak dalam Buku Matematika

4 Feb

Tadi pagi ketika sedang menemani Ghautsina tidur, ada telepon dari seorang Ibu Guru SD.

“Bu, maaf mau nanya. Sederhana sih, tapi bikin saya bingung,” prolognya. Saya menunggu kalimat selanjutnya sambil menerka-nerka, hendak bertanya apakah gerangan si Ibu Guru ini.

“Bilangan seratus itu puluhan dan satuannya berapa?” tanyanya.

“Seratus itu ratusannya satu, puluhannya nol dan satuannya nol,” jawab saya.

“Iya, menurut saya juga begitu. Cuma dikunci jawaban tertulis puluhannya sepuluh dan satuannya nol. Saya jadi bingung.” Timpal si Ibu Guru, kemudian menutup percakapan.

Ok, the case is finished. Tetapi, ada hal lain mengganggu pikiran saya. Jadi Ibu Guru yang menelepon saya tadi kebingungan karena kesalahan tulis dalam sebuah kunci jawaban (entah di buku atau LKS). Dulu saya begitu mudah menjustifikasi bahwa kesalahan dalam buku (terutama matematika) adalah kesalahan penulisnya yang tidak termaafkan. Kesalahan-kesalahan kecil, membuat dosa besar. Membingungkan siswa yang sedang belajar mandiri. Menjadikan soal-soal tidak berpenyelesaian. Bahkan, yang sudah menjadi rahasia umum, bagi guru yang malas mengerjakan soal dan hanya mengandalkan kunci jawaban, terkadang dengan mudah menyalahkan jawaban siswa karena tidak sesuai dengan kunci jawaban yang padahal salah cetak.

Tetapi, setelah beberapa tahun terakhir ini saya menulis buku (pelajaran matematika), saya menjadi tahu, bahwa kesalahan itu teramat manusiawi. Kesalahan itu memohon pemaklumannya sendiri karena sang penulis tidak sempat meminta maaf menemui pembacanya satu per satu. Setiap kali saya menerima kiriman buku dari penerbit, saya menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku saya sendiri. Mencari-cari kesalahan yang luput dari proses editing. 

Mengutip pernyataan seorang editor yang pernah saya baca di statusnya “Typo adalah hal yang menandakan bahwa editor juga manusia”. Salah ketik, salah cetak atau biasa dikenal dengan istilah typo (Typographical error) adalah hal yang sangat manusiawi. Tetapi, bukan berarti seorang penulis (terutama buku matematika) bisa santai saja dengan typo yang ada di bukunya. Beberapa kali saya mendapatkan message di FB, tentang kekeliruan dalam buku yang saya tulis. Biasanya saya langsung membuka buku cetak dan melihat file asli yang saya ketik. Ada yang memang kesalahan saya, ada juga kadang-kadang kesalahan dalam proses setting layout di penerbit.

Belajar dari satu dua buku yang jauh dari kata sempurna, sekarang saya menjadi lebih berhati-hati. Editing saya lakukan berkali-kali. Ketika naskah selesai diketik, sebelum saya kirim ke penerbit saya pastikan bahwa saya sudah meneliti semuanya. Ketika selesai dari tangan editor dan udah dilayout menjadi bentuk buku, saya selalu meminta untuk melihat dulu sebelum akhirnya naik cetak. Saya harus membaca lebih teliti. Hasil setting layout kadang-kadang mengobrak-abrik notasi-notasi matematika. Misalnya 10^2 menjadi 102, tentu saja ini adalah kesalahan fatal. Mengubah posisi gambar, tentu saja merupakan kesalahan yang tidak bisa dianggap sepele. Kadang-kadang sebagian penjelasan hilang. Jadi Salah cetak dalam sebuah buku (matematika) itu adalah sebuah keniscayaan yang hanya bisa diminimalkan menjadi tiada.

Tulisan ini, untuk semua pembaca buku saya. Adik-adik yang sedang belajar matematika. Bapak Ibu guru yang berkenan memakai buku yang saya tulis. Banyak kesalahan di dalamnya. Jauh dari kata sempurna. Saya sedang dan terus belajar menulis lebih baik lagi. Mengurangi kemungkinan-kemungkinan typo yang manusiawi.

Advertisements
%d bloggers like this: